Jumat, 14 Agustus 2020

Popularitas dan Bertuhan Materi

POPULARITAS DAN BERTUHAN MATERI


Tak Bisa ditepis lagi, perkembangan teknologi informasi telah berkembang pesat membawa perubahan yang cepat di seluruh lini kehidupan. Mempengaruhi bahkan mengubah wajah kehidupan di semua sektor, Baik Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya serta sektor Lainnya yang cukup banyak jumlahnya.

Terlebih lagi tentang gaya hidup, popularitas, hingga moral. Semua, sudah mengalami transformasi teknologi, namun cukup disayangkan bukannya mengarah kepada kemajuan justru membawa kepada kemerosotan moral yang sangat memprihatinkan.

Saya akan membawa kalian menganalisis, melatih otak dan akal untuk sedikit bermain kata-kata.

Di zaman media sosial seperti ini, masihkah harga diri dinilai begitu penting???

"Popularitas dan Bertuhan Materi"

Dua kata yang menjadi dasar pemicu keterpurukan akhlak.

Coba kita berpikir tentang tingkah mahluk yang menamakan dirinya "manusia" di era sekarang ini.

Ada sebagian orang rela "bunuh diri" demi mencari popularitas di media maya. Saya menggunakan kata bunuh diri disini untuk melukiskan perbuatan buruk manusia yang menjerat dirinya dalam labirin masalah.

Pertama, ada orang yang rela menjual harga diri, menyebar ujaran kebencian dan berita bohong, bertindak asusila bahkan mempertontonkan pelecehan seksual, demi Apa???. Demi mendapat respon "manusia dangkal berpikir" untuk dijadikan fasilitas popularitas terutama di media sosial. Tujuannya Apa???  Tujuannya untuk mengalirkan rezeki materialis berlabel "Uang".

Kedua, ada orang yang mencoba menggunakan latar belakang "Agama, Nabi, dan Tuhan" untuk menarik simpati orang-orang yang malas berpikir. Memanfaatkan masyarakat Awam sebagai target untuk bertindak bodoh. Mereka senang melihat perdebatan, permusuhan, bahkan pembunuhan sesama umat "Toleransi", hanya dengan sepenggal kata ataupun Perbuatan yang sifatnya menista.

Tujuannya Apa...???

Lagi-lagi untuk popularitas dan materi.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa yang menamakan dirinya "kritis"? Apakah kita tinggal diam saja? Ataukah ikut mengambil bagian dengan manjadi fasilitas popularitas?, ataukah mencari solusi menyadarkan orang-orang yang telah terjangkit penyakit "cinta dunia " yang sangat berbahaya ini???

Itu semua tergantung bagaimana kita memilih untuk melakukan apa dan menjadi siapa. Namun, saya sendiri menanamkan prisnsip seperti ini:

Orang yang mencari popularitas dan materi di media sosial dengan cara yang menurut kesepakatan adalah " cara tidak baik" seperti perbuatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bisa kita cegah, Cukup dengan memutus mata rantainya. Mereka akan merasa berjaya ketika memiliki banyak respon, semakin orang tertarik dengan perilaku buruknya semakin Dia merasa telah menuai kemenangan. Semakin banyak orang yang membagikan postingan "buruknya" maka semakin populer(viral)lah Dia.

Maka dari itu nalar kritis kita mengolah informasi di media sosial menjadi begitu penting, ingatlah Allah sudah berjanji tak akan ada orang yang mencoba melawan dan melecehkan agama Allah melainkan dia akan menuju jurang kebinasaan.

Harga dirimu di mata Allah jauh lebih penting dari popularitasmu di mata Manusia.

Senin, 10 Agustus 2020

Puisi : Bertani rindu diladang semu

 

BERTANI RINDU DI LADANG SEMU


saat awan sungkan menampakkan rembulan,

ada tangis bersembunyi di pekatnya malam

riuh tahlil kian menyiratkan kesunyian,

Memaksa kisah segera dikhatamkan

 

Jari bergetar tubuh gemetar

hening berkoar angin menampar

pelayat bergilir memadati selasar

menepuki Pundak memaksaku tegar

 

Tahan sebentar.. 

Izinkan waktu memulihkan tubuh yang gemetar

Menyisih dari ramai, menyusuri jenggala memori

Menatap kejamnya hujan meninggalkan awan

Menjatuhkan rintik membasahi rerumputan

 

Biarlah..

Biarlah azalea liar merambat

Menebar sabar mengenalkan 

bahasa ikhlas yang amat hangat

Hembusan lembut mengusik khayalku, 

mengusir bayangmu

Oh kejamnya rindu di ladang semu

 

Jika Bertani rindu yang berharap temu, 

ini bukan ladangmu!

Kawanku telah nyenyak 

dalam peniduran akhir yang sudah tentu

Pijakan tak lagi kokoh dengan raga lesu 

dan tatap ambigu

Senyum tak lagi kuasa menirai 

perihnya sayatan sembilu

Tak siap dengan belantara rindu 

yang enggan beranjak dari kalbu

 

Aku tahu ….

tak pantas pilu mengiring ragamu yang riang

Bait rindu selalu kuselipkan

Di kafilah doa yang terus kulangitkan

Bentala kan menyambutmu 

diperutnya yang lapang

Selamat jalan kawan.. dariku yang ditinggalkan


Karya : Indah, Sulawesi Barat

Sabtu, 08 Agustus 2020

PATRIARKI DAN KONDISI KRISIS PEREMPUAN

 

PATRIARKI DAN KONDISI KRISIS PEREMPUAN

Yasmirati - Akuntansi 019

"Ini harus dihentikan !!

Pemerkosaan

Pelecehan

Kekerasan

Pembunuhan

Korbannya adalah Perempuan

Ini bukan salahku

Bukan Salah pakaianku

Ini Salah otakmu

mulut mu & patriarki?

Kutipan di atas menggambarkan luapan emosi perlawanan terhadap berbagai kekerasan terhadap perempuan. Seperti yang kita ketahui, dalam berbagai fenomena permasalahan sosial di Indonesia, perempuan selalu mendapat jatah perlakuan berlebihan dibandingkan dengan laki-laki. Ya, inilah bentuk representasi ideologi yang bernama patriarki.

Alfian Rokhmansyah (2013) dalam bukunya berjudul Pengantar Gender dan Femisime, menyatakan “patriarki berasal dari kata patriarkat, yang berarti struktur yang menempatkan posisi dan peranan laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dan segala-galanya.” Patriarki secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem dimana otoritas kekuasaan dan kewenangan dalam sebuah tatanan sosial didominasi oleh laki-laki sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh.

Jika kita menelisik kehidupan sosial perempuan di Indonesia, budaya patriarki ini  begitu melekat dalam budaya kehidupan sosial masyarakat. Hal ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan seperti, ekonomi, politik, hukum bahkan pendidikan sekalipun. Akibatnya perempuan masih sering mengalami perlakuan yang tidak senonoh seperti yang sering kita temukan yaitu pemerkosaan, pelecehan, kekerasan dan pembunuhan terhadap perempuan. Hal itu juga tak lepas bagaimana pendidikan sejak dini terhadap perempuan, pada benak mereka telah ditanamkan dogma bahwa urusan dan kegiatan perempuan tak boleh keluar dari ranah domestik.

Kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dipisahkan dengan budaya patriarki yang masih ada di masyarakat. Budaya patriarki yang memandang perempuan sebagai objek semata juga dapat mendorong lai-laki melakukan kekerasan, menganggap perempuan sebagai kaum lemah dan tidak berdaya. Hal ini Menjadikan budaya partriarki yang susah untuk dihilangkan.

Sebut saja Catcalling misalnya, tindakan yang tidak jarang ditemui dilakukan oleh laki-laki dengan menggoda perempuan atau memanggil dengan tendensi seksual, biasanya berupa siulan ataupun komentar. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan pada diri perempuan.

Dampaknya korban takut untuk berjalan di keramaian, menjadi tidak percaya diri (parno) saat melihat sekumpulan laki-laki atau bahkan sampai berbalik arah untuk menghindarinya. Perasaan waswas dengan tindakan diskriminasi yang kemungkinan terjadi jika keluar rumah seorang diri. Belum lagi perempuan yang keluar malam sendirian dianggap sebgai perempuan yang tidak baik-baik. Padahal penelitian menunjukkan kekerasan terhadap perempuan lebih banyak terjadi disiang hari. Dari disinilah muncul rasa titik lemah perempuan dikarena subordinasi perempuan yang berlebihan di tengah masyarakat.

Ada ketimpangan relasi sosial antara perempuan dan laki laki, dimana laki laki merasa memiliki kuasa dan superior berlebihan atas tubuh dan tindakan perempuan. Perempuan selalu menjadi korban monster patriarki.

Selain itu perempuan dibatasi dengan lingkup yang sederhana, peran perempuan hanya boleh berada di ranah bidang domestik. Perempuan sebagai seorang istri menjadi korban dari laiki-laki dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak setara pun dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Perempuan tidak lebih sebagai parasit dalam kehidupan rumah tangga. Untuk apa perempuan dididik? Disekolahkan tinggi tinggi oleh orang tuanya jikalau selepas menikah dia hanya berpacu pada lingkup domestik saja. Padahal di bidang pendidikan perempuan mengalami peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang setara dengan laki laki.

Jika merujuk pada sejarah, memang peran perempuan sejak dahulu lebih dominan pada pekerjaan domestik, sedangkan laki laki yang keluar rumah mencari pundi pundi uang. Tetapi itu semua akan berbeda jika kita kembali mengingat sejarah R.A Kartini sang pahlawan perempuan yang berjuang untuk emansipasi wanita.

RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara perempuan dan laki laki di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara laki laki dan perempuan pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan.

Sekarang? Istri yang tidak menjalankan perintah suami mendapatkan perlakuan yang tak senonoh seperti KDRT dan kekerasan seksual. Itu terjadi akibat pengaruh budaya patriarki yang cenderung memiliki keleluasan untuk melakukan apapun terhadap perempuan. Hal ini juga yang menyebabkan tingginya angka pelecehan seksual di Indonesia.

Tercatat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdiri dari 421.752 kasus bersumber dari data kasus/perkara yang ditangani Pengadilan Agama, 14.719 kasus yang ditangani lembaga mitra Pengada Layanan yang tersebar di sepertiga provinsi di Indonesia dan 1.419 kasus dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR). Dari 1.419 pengaduan tersebut, 1.277 merupakan kasus berbasis gender dan tidak berbasis gender 142 kasus.

Tanpa disadar data di atas  menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah pikiran yang patriarkis. Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa perempuan yang selalu menjadi korban?

Pembagian peran gender ini dikatakan memang dibentuk dengan tujuan melindungi perempuan, agar perempuan tidak susah payah lagi mencari nafkah dan fokus melayani suaminya saja. Anggapan bahwa dengan keluar dari wilayah domestik kemudian beralih ke ruang publik malah dianggap sebgai bentuk eksploitasi terhadap perempuan.

Itulah mengapa perempuan selalu dianggap lemah! Padahal sudah banyak bentuk perlawanan yang telah dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan peluang kerja.

Inilah mengapa para feminisme mendukung keras agar DPR RI segera mengesahkan RUU penghapusan kekerasan sexual (PKS). Sebab nyatanya merekalah yang menjadi korban utama. Perempuan harus turun tangan untuk melawan patriarki, perempuan harus memberikan suaranya, dan aksinya

Sabtu, 13 Juni 2020

Ormawa Febi UIN Alauddin Makassar Adakan Panggung Bebas Ekspresi.


Ormawa Febi UIN Alauddin Makassar Adakan Panggung Bebas Ekspresi.

ORMAWA FEBI UIN Alauddin Makassar Adakan Panggung Bebas Ekspresi.


Organisasi Kemahasiswa (Ormawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam menggelar panggung bebas ekspresi di depan kampus 2 UIN Alauddin Makassar. Jumat,  (12/06/20).

Panggung bebas ekspresi ini merupakan bagian dari kegiatan untuk menggalang solidaritas mahasiswa dalam memperjuangkan haknya selama pendemi Covid-19, misalnya tuntutan untuk memberikan pemotongan atau relaksasi pembayaran UKT semester depan. Mengingat sampai hari ini, belum ada kebijakan yang dikeluarkan dari birokrasi kampus dalam hal pembayaran UKT semester depan.

Hal ini tentunya juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan berbagai keresahan, aspirasi dan tuntutan mereka. Beberapa kegiatan yang ditampilkan oleh mahasiswa di acara panggung bebas ekspresi ini seperti puisi, menyanyi dan pemutaran film dokumenter.

Ketua HMJ Akuntansi, Andri Pranoto, menyampaikan harapannya agar mahasiswa tetap menjaga semangat perjuangan dan kepekaannya dalam melihat persoalan-persoalan yang terjadi di kampus UINAM.

"Di tengah kondisi yang serba terbatas, mahasiswa harus tetap peka dan tidak apatis. Seperti yang kita ketahui belum ada kebijakan pimpinan kampus UINAM untuk mengurangi beban orang tua mahasiswa dalam hal pembayaran UKT semester depan". Harapnya.

Lebih lanjut, Andri menyerukan untuk tetap bersolidaritas mengawal tuntutan dan keresahan mahasiswa.

"Ini adalah keresahan kita bersama, oleh karena itu mari rapatkan barisan comrades!". Tutup, Andri.

Sabtu, 06 Juni 2020

RASISME


RASISME;  Putih Ajaib, Hitam Eksotis.

Sahrul Ramadan - Akuntansi 017


Setiap warna memiliki makna, baik itu dalam lingkup keagamaan, sosial, dan budaya. Warna dapat kita artikan sebagai sesuatu yang dapat mempengaruhi kelakuan ataupaun segala luapan emosi seseorang.

Dalam konteks keagamaan warna seringkali diaplikasikan dengan simbolis. Dalam islam sendiri, warna putih dan hitam adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Putih acap kali dikaitkan dengan sesuatu yang baik, murni, dan suci. Berbeda dengan halnya hitam yang sering kali dikaitkan ataupun dipandang dengan sesuatu yang buruk, gelap, dan sesuatu yang memiliki stigma negatif. Hukum warna dalam islam itu sendiri bersifat mubah alias netral.

Dari kecil bahkan hingga saat ini stasiun TV swasta sering kali memperlihatkan ataupun memampilkan sebuah drama, yang dimana terdiri dari dua buah tokoh yang berperan penting yakni pratagonis dan antagonis atau si putih dan si hitam yang selalu memiliki sifat oposisi. Mereka sering kali berkonflik baik secara fisik maupun secara psikis. Dari sinilah masyarakat secara tidak sadar terkonstruk paradigma mereka tentang adanya kelas si penindas dan si tertindas.

Perbedaan warna sering kali terjadi, dan bahkan menjadi sebuah permasalahan dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Adanya perbedaan kelas atas dan kelas bawah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat biasayan identik dengan warna. Ya, lagi-lagi rasisme permasalahannya.

Rasisme secara singkat dapat kita artikan sebagai sebuah paham yang menyatakan bahwa satu ras lebih tinggi dengan ras lainnya. Rasisme bagaikan sebuah penyakit kanker yang terus menjalari peradaban umat manusia. Dalam lingkungan masyarakat rasisme sering tampil sebagai bentuk kebencian terhadap orang lain, karna memiliki perbedaan warna kulit, bahasa dan budaya. Pelaku rasisme bukan hanya memperlihatkan kebenciannya dalam bentuk fisik melainkan secara lisan yang dapat menjatuhkan korbannya dari segi fisik maupun mental. Akibatnya,  Rasisme sering menjadi bahan bakar terciptanya perang, konflik berdarah, pembantaian, perbudakan dan lebih parahnya lagi tak dianggap sebagai manusia.

Memiliki wajah yang cantik dan ganteng, berkulit putih mulus adalah dambaan umum tiap perempuan dan laki-laki. Banyak diantara kita yang tidak segan melakukan segala cara dan upaya untuk bisa masuk dalam ketagori cantik dan ganteng agar bisa berkamuflase dilingkungan sosial.

Adanya standarisasi, atau tatanan sistem yang dibuat oleh masyarakat memaksa tiap orang mengeluarkan uang lebih hanya untuk mendapatkan pengakuan dari khalayak banyak. " Kok kamu cantik/ganteng banget sih, kamu beda ya?, yang dulunya butek, keruh, hitam legam sekrang terlihat bercerah". Siapa sangka, hanya dengan mengandalkan beberapa kata dengan tambahan garam dapat membuat wajah seseorang menjadi merah tersipu malu, senang bahkan bangga dengan hasil pencapaiannya.

Media memiliki peran penting untuk mendukung sistem yang telah lama mendarah daging dalam tatanan sosial masyarakat. Media pertelevisian menjadi media pilihan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia, yang rata-rata menghabiskan waktu 4,5 jam setiap harinya untuk menonton televisi, dan hampir semua rumah tangga kelas menengah mempunyai televisi.

Program televisi paling diminati oleh rumah tangga kelas menengah di Indonesia yang biasa ditonton setiap harinya, adalah olahraga, disusul dengan seri drama dan jenis-jenis program hiburan lainnya, dan disetiap serial yang kita ikuti terdapat sela-sela iklan didalamnya, yang rata-rata memiliki durasi 10-15 menit perharinya. Lagi-lagi iklan yang dimaksudkan disini tentunya tidak serta merta bersifat edukasi,  melainkan hanya bersifat sebagai pemuas hasrat semata.

Produk pemutih kulit dan pelurus rambut adalah salah satu produk yang paling dominan ditampilkan,  dengan mengandalakan orang yang cukup familiar dikalangan masyarakat,  seperti mbak Anggun dan Maudy Ayunda, yang memang memilki background paras rupa yang cantik, berkulit putih mulus, dan berambut nan lurus. Akan tetapi,  apakah produk diatas akan berlaku juga dengan orang-orang yang memilki gen berkulit hitam dan berambut kriting yang bahkan menjadi ciri khas dari sebuah keluarga, kelompok, ataupun ras yang berbeda? Nyatanya, kapitalisme tidak akan pernah berjalan ketika anda tidak memiliki Rasisme.

Definisi cantik dan genteng yang berlaku di sebuah wilayah atau negara ini, tentunya tidak berlaku dibeberapa negara lainnya. Cantiknya orang suku Apatani (India), tak sama dengan cantiknya wanita suku Mursi (Ethiopia), sama halnya dengan suku Dayak (Kalimantan), yang tak sama dengan standarisasi daerah-daerah lainnya di Indonesia. Cantik tak selamanya identik dengan warna putih, berwajah mulus, berambut lurus, tinggi,  mancung. Cobalah kita berkiblat pemenang Miss Universe 2019, Zozibini Tonsi (Afrika Selatan), yang mewarisi kulit hitam. Zozibini Tonsi berhasil mengalahkan 90 peserta delegasi tiap negara lainnya, seperti Madison Anderson (Puerto Riko),  dan Sofia Aragon (Meksiko), yang hanya menempati posisi kedua dan ketiga. Dimana dia mewarisi kulit putih, tinggi, dan hidung mancung.

Rasisme, perbedaan warna kulit,  budaya, bahkan keyakinan sudah menjadi virus didalam tubuh masyarakat,  yang siap menular ketubuh yang satu dengan tubuh lainnya, tak kenal siapa orangnya dan bisa saja kalian adalah korban ataupun malah menjadi pelaku.

Beberapa hari yang lalu, dunia digemparkan dan berduka atas meninggalnya George Floyd keturunan Afrika-Amerika yang meregang nyawa diatas lutut seorang polisi dan menjadi korban atas kejamnya rasisme. Selain di Amerika, meninggalnya Floyd memicu protes dibeberapa negara bagian seperti, Jerman, Italia, Kanada dan negara lainnya.

Kasus atas meninggal Goerge Floyd adalah satu dari sekian banyaknya kasus rasisme yang ada didunia. Sama halnya dengan kasus diskriminasi yang didapatkan oleh orang berkulit hitam dari Afrika di China yang mengakibatkan pengusiran warga china dari beberapa negara di Afrika sebagai bentuk balasan, atau kasus politik apartheid yang rasis di Afrika Selatan, dimana tatkala kulit putih eropa berkuasa, maka selama berpuluh puluh tahun warga berkukit hitam menjadi warga negara kelas dua dan bahkan terpinggirkan, yang pada akhirnya melahirkan balasan yang sama tatkala warga negara berkukit hitam berkuasa dibawah naungan Nelson Mandela. Atau bagaimana kasus Rasisme dan diskriminasi yang didapatkan orang papua dibeberapa daerah diIndonesia, yang dihakimi,  dihujati dengan kata-kata makian dan cacian, dikepung dan bahkan diancam sebagai teroris bersenjata. Kulit hitam berambut keriting kalian usir dirumah sendiri, dan diasingkan seakan akan dianggap aib didalam tatanan masyarakat. Sedangkan sumber daya alam mereka kalian kerot untuk menghidupi jawa dan sekitarnya,  pendidikan mereka dibatasi agar mereka tetap diam terborgol dalam kebodohan.

Berapa banyak pelanggaran rasis tanpa ada solusi tuntas? Begitulah ketidakadilan, yang kadang melahirkan pembalasan dan ketidakadilan yang baru, jangan adalagi ketidakadilan yang di pertontonkan dan sisakan sedikit toleransi untuk kemanusiaan. Sudah saatnya kita mengakhiri semua itu, karna kita semua sama yang tak memilki kuasa untuk meminta ke Tuhan dilahirkan dengan warna kulit seperti apa, dari rahim siapa dan dalam keadaan kondisi seperti apa.


Jumat, 05 Juni 2020

PENTINGKAH IPK?

PENTINGKAH IPK?

Muhammad Nurfaizy Hamdan - Akuntansi 017

Assalamualaikum Wr.Wb. Opini dalam bentuk tulisan ini saya angkat untuk dapat memberikan pandangan atau paradigma kepada para pembaca sesama mahasiswa tentang seberapa pentingkah IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif bagi mereka.

Para pembaca yang Insya Allah dalam keadaan sehat walafiat.  Indeks Prestasi Kumulatif alias IPK sering menjadi kebanggaan sekaligus momok menakutkan bagi mahasiswa. Bahkan katanya nilai IPK bisa menentukan tingkat kebanggaan dan kepercayaan diri seseorang. Sepenting itu kah IPK ?

Di Indonesia umunya diterapkan IPK skala 0-4, dengan 4.00 dinilai sempurna, 3.51 keatas dinilai cumlaude, 3.00 dianggap bagus sedangkan dibawahnya sudah dapat menjadi momok tersendiri bagi para penyandangnya. Tapi apakah sebegitu pentingnya sampai layak dijadikan “goal” utama mahasiswa ? . Bahkan, sampai bisa menyebabkan para mahasiswa menjadi depresi hingga yang paling menyedihkan dan disesalkan adalah kasus bunuh diri mahasiswa lantaran masalah nilai

Langsung saja kita masuk ke bahasan ya. Sebenarnya pentingkah kita mempunyai IPK yang tinggi?Atau justru malah tidak terlalu penting? Sebenarnya jawaban dari pertanyaan tersebut masih pro kontra. Ada yang ngomong penting karena itu menjadi kunci penting untuk memasuki dunia kerja. Tapi tidak sedikit juga yang ngomong tidak  terlalu penting karena saat ini yang utama itu bukan IPK, melainkan skill.

Terlepas dari pro kontra tersebut, mari kita coba untuk berpikiran secara terbuka dan tidak mengambil kesimpulan begitu saja secara mentah. Ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan sebelum menyimpulkan hal ini. Walaupun tetap pasti akan timbul pro-kontra, tapi setidaknya kita tidak hanya memandang dari satu sudut pandang saja. Ada pesan yang cukup membuat saya menohok. Katanya begini….

“IPK ITU TIDAK DIBAWA MATI YANG DIBAWA MATI ADALAH “PROSES” UNTUK MENDAPATKAN ITU”

Ada satu sisi yang membuat saya sepakat dan tidak  sepakat dari kata-kata di atas. Pertama, saya sepakat bahwa sebenarnya yang jauh lebih berharga dan akan dibawa mati itu adalah proses dari mendapatkan IPK nya. Apakah dengan cara yang benar, jujur, dan sesuai aturan ataukah memang dengan cara-cara kotor yang penuh dengan kelicikan? Itu semua tentu saja akan dipertanggungjawabkan.

Namun saya kurang sepakat kalo IPK itu tidak  dibawa mati. Sebab sebenarnya IPK itu juga akan dibawa mati. Tentu saja, bukan hanya prosesnya saja yang bakal kita pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Tapi seberapa nilai IPK nya juga pasti akan dipertanggungjawabkan. Entah itu besar ataupun kecil.

Kalo besar, sudah seberapa banyak ilmu yang kamu manfaatkan dari besarnya IPK yang kamu dapat itu. Apakah IPK itu sudah bisa membuat kamu lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih mengerti terkait dari esensi ilmu itu sendiri? Atau justru dengan besarnya IPK itu hanya membuat kamu sombong dan jemawa.

Pun kalau IPK kamu kecil. Kenapa IPK mu bisa kecil? Padahal Tuhan telah mengkaruniakan kita semua modal waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Apakah kita terlalu banyak mengeluh dan malas-malasan sehingga hal tersebut bisa terjadi pada kita. Ah intinya, baik besar atau kecil IPK yang kita peroleh, semuanya bakalan di bawa mati. Bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Adapun kalimat yang sering muncul seperti ini…

“SKILL DAN ILMU YANG DISERAP DAN DITERAPKAN JAUH LEBIH PENTING KETIMBANG IPK”

IPK yang tinggi bukanlah jaminan bahwa seorang mahasiswa telah benar-benar menguasai ilmunya. Cara mendapatkan IPK tinggi yang sangat beragam merupakan alasan kenapa banyak sekali mahasiswa yang bagus nilainya namun tidak benar-benar paham apa yang menjadi bidang studinya. Hal ini sering kita temui di kampus. Oleh karena itu, janganlah terpaku pada nilai IPK yang tinggi. Tapi cobalah untuk kenal lebih dekat dengan sesama mahasiswa,  kamu bisa tahu apakah dia benar-benar menguasai ilmunya. Apabila tolak ukuran kamu dalam menilai seseorang hanya dari IPK, maka kemungkinan besar kamu akan tertipu. Bisa jadi, mereka yang IPK nya jelek justru punya skill yang lebih beragam.
Lalu bagaimana dengan …

“LEBIH BAIK MENGEJAR IPK TINGGI ATAU AKTIF ORGANISASI/KEPANITIAAN?”
      
          Semuanya kembali lagi ke prioritas kamu sebagai mahasiswa. Cobalah untuk lebih banyak sharing bersama senior atau konsultasi ke dosen pembimbing ketika kamu bingung. Dan yang paling penitng , pastikan kamu tau betul kenapa kamu ikut organisasi atau kepanitiaan tersebut. Jangan sampai  kamu terpaksa ikut hanya karena sekadar ikut-ikutan teman kamu. Mungkin waktu SMA, setiap kegiatan sekolah dilakukan bersama-sama, tapi dunia kuliah itu berbeda, kamu tidak harus ikut-ikutan teman kamu lagi untuk melakukan sesuatu. Kamu bebas menentukan kegiatan-kegiatan kamu sendiri, kamu betul betul punya kebebasan focus untuk belajar mengejar prestasi akademis atau ikut kegiatan-kegiatan tertentu.

Untuk menutup tulisan ini, saya sendiri memandang bahwa memiliki IPK yang tinggi itu penting. Kenapa? Karena IPK tinggi merupakan bagian dari tanggungjawab kita sebagai mahasiswa. Tanggungjawab kita terhadap orang tua yang telah membiaya kita kuliah, tanggungjawab kita terhadap diri sendiri dan dosen, dan tanggungjawab-tanggungjawab yang lainnya. IPK tinggi juga merupakan bagian dari bagaimana kita mengoptimalkan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menunjukan kemampuan terbaik kita. Kalaupun nantinya kamu dianggap ambis dan sebagainya, itu bukan sebuah masalah. Lalu bagaimana dengan organisasi dan peningkatan skill lainnya sebagai pendukung IPK yang saya miliki ? Secara pribadi organisasi dan kegiatan kepanitiaan termasuk hal yang penting bagi saya, dan urgensi dari organisasi tidak akan mereduksi urgensi dari IPK itu sendiri.

Dan tentu saya akan sekaligus memberikan saran kepada kalian agar tetap dapat memperoleh IPK yang tinggi sembari mengikuti kegiatan organisasi maupun kepanitiaan :
1.       Buatlah List pada setiap kegiatanmu.
2.       Tentukan yang mana prioritas.
3.       Sisihkan waktu untuk mengulang pelajaran sebelum pelajaran berlangsung.
4.       Sadar diri untuk tidak mengambil tanggung jawab terlalu tinggi di organisasi apabila disadari tidak mampu membagi waktu dengan begitu baik.
5.       Jadikan kegiatan organisasi sebagai wadah mencari pengalaman.

Mungkin dari dulu penilaian masyarakat terhadap IPK tinggi itu tidak terlalu penting, tapi kenyataannya IPK memiliki peranan yang cukup bermanfaat bagi kamu. Mulai dari membuka gerbang dalam dunia kerja, meneruskan S2, mendapat beasiswa, hingga mempermudahmu menjadi calon menantu. Walaupun aktif berorganisasi dan kuliah sambil kerja, tapi jangan lupakan kuliah ya. Semangat!

Kamis, 04 Juni 2020

BERANTAKAN

Berantakan

Karya : Power Ranger Terkutuk


Orang-orang kota telah membunuh cinta,
Tepat ketika aku kelaparan
Tepat ketika anak-anak mengamen di lampu merah
Harapan menjadi bayang-bayang yang melucuti kehidupan

Aku ingin menyeret Tuhan tepat di depan bapak
Dan berkata adakah sholat yang kutinggalkan
Dan memaki bapak kalau dia telah membunuhku
Tepat ketika aku tak lagi bisa menjadi diri sendiri

Benar kata si juju
Satu-satunya cara hidup berdampingan
Adalah jangan berkenalan

Aku telah lahir kembali
Buah dari percintaan sepasang mata
Dan senyum di bibirmu
Dan wangi coklat ditubuhmu Nona



Makassar, 12 Mei 2020

HMJ-AK UIN Alauddin Makassar Sukses Laksanakan Bakti Sosial 2026: Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat

  Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-AK) UIN Alauddin Makassar telah melaksanakan salah satu program kerja yaitu Bakti Sosial (BAKSOS...