Setiap periode kepengurusan,
organisasi mahasiswa selalu menjadi ruang yang dipenuhi optimisme. Banyak mahasiswaa
datang dengan semangat besar untuk menjadi bagian dari perjalanan organisasi.
Dalam proses seleksi atau screening kepengurusan, mereka menyampaikan
berbagai komitmen tentang kesiapan mengabdi, meluangkan waktu, dan bertanggung
jawab terhadap amanah yang diberikan. Namun, perjalanan organisasi sering kali
menghadirkan realitas yang berbeda dengan yang di sampaikan sebelumnya.
Semangat yang dahulu disampaikan perlahan diuji oleh dinamika kepengurusan,
kesibukan akademik, dan berbagai persoalan internal organisasi.Pada titik tertentu, sebagian
pengurus mulai kehilangan konsistensi. Kehadiran dalam kegiatan berkurang,
tanggung jawab tidak lagi menjadi prioritas, dan organisasi mulai dipandang
sebagai beban. Fenomena ini menjadi pertanyaan penting: apakah persoalan utama
organisasi mahasiswa terletak pada kurangnya minat berlembaga, atau justru pada
hilangnya pemahaman tentang makna berorganisasi itu sendiri?. Berlembaga seharusnya tidak
dimaknai hanya sebagai aktivitas mengisi struktur kepengurusan. Organisasi
merupakan ruang pembelajaran yang membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter
seseorang. Ketika seseorang memilih menjadi bagian dari organisasi, ia tidak
hanya menerima sebuah jabatan, tetapi juga menerima tanggung jawab moral untuk
menjaga nilai dan tujuan bersama.\
Paulo Freire menjelaskan dalam
buku pendidikan kritisnya yang memandang bahwa pendidikan bukan hanya proses
menerima pengetahuan, tetapi proses membangun kesadaran terhadap realitas. Jika
gagasan ini diterapkan dalam organisasi mahasiswa, maka organisasi bukan hanya
tempat menjalankan program kerja, melainkan ruang untuk membangun kesadaran
kritis, kepedulian sosial, dan kemampuan memahami persoalan bersama. Dengan
demikian, keberadaan anggota dalam organisasi seharusnya tidak berhenti pada
kehadiran fisik, tetapi juga keterlibatan pikiran dan kepedulian.
Sejalan dengan yang dikatakan, Ki
Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di
lingkungan kampus, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan lingkungan sosial.
Organisasi mahasiswa menjadi salah satu ruang pendidikan tersebut. Melalui
dinamika organisasi, seseorang belajar mengenai kepemimpinan, kerja sama,
tanggung jawab, serta bagaimana menghadapi perbedaan. Artinya, nilai-nilai
organisasi tidak terbentuk melalui slogan, tetapi melalui proses yang dijalani
bersama.
Namun, proses pembentukan karakter
tersebut membutuhkan budaya organisasi yang sehat. Peter M. Senge melalui
konsep learning organization menjelaskan bahwa organisasi yang baik
adalah organisasi yang mampu terus belajar dan berkembang melalui pengalaman
bersama. Organisasi tidak hanya membutuhkan anggota yang mampu menjalankan
tugas, tetapi juga lingkungan yang mendorong setiap individu untuk berkembang.
Ketika organisasi hanya berorientasi pada penyelesaian program kerja tanpa
memperhatikan perkembangan anggotanya, maka rasa memiliki akan semakin sulit
tumbuh.
Dalam konteks organisasi yang
menjunjung sistem kekeluargaan, nilai kebersamaan menjadi fondasi penting.
Robert D. Putnam menjelaskan konsep social capital sebagai kekuatan yang
lahir dari kepercayaan, hubungan sosial, dan kerja sama antarindividu.
Organisasi yang memiliki modal sosial kuat akan memiliki anggota yang saling
mendukung dan merasa bertanggung jawab terhadap tujuan bersama. Sebaliknya,
ketika hubungan antaranggota hanya bersifat formal, maka organisasi akan
kehilangan ikatan emosional yang menjadi sumber kekuatannya.
Permasalahan tanggung jawab dalam
organisasi juga tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan individu. Sering
kali seseorang kehilangan semangat bukan karena tidak memiliki kepedulian,
tetapi karena organisasi belum mampu menciptakan ruang yang membuat mereka
merasa dihargai dan dibutuhkan. Oleh karena itu, organisasi perlu melakukan
evaluasi terhadap budaya internalnya: apakah setiap anggota diberikan ruang
untuk berkembang, apakah komunikasi berjalan dengan baik, dan apakah setiap
kontribusi dihargai.
Erich Fromm pernah membedakan
antara orientasi "memiliki" (having) dan "menjadi" (being).
Dalam konteks organisasi, seseorang yang hanya berorientasi pada
"memiliki" jabatan akan melihat organisasi sebagai tempat memperoleh
posisi dan pengakuan. Sementara seseorang yang berorientasi pada
"menjadi" akan melihat organisasi sebagai proses membentuk diri,
belajar, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Perbedaan cara pandang inilah
yang menentukan kualitas seseorang dalam berlembaga.
Pada akhirnya, tantangan organisasi
mahasiswa bukan hanya bagaimana menarik kader untuk bergabung, tetapi bagaimana
menjaga kesadaran mereka terhadap nilai perjuangan yang dibangun bersama.
Jabatan dapat diberikan melalui proses seleksi, tetapi rasa tanggung jawab
tidak dapat dipaksakan melalui aturan. Ia tumbuh dari kesadaran, keteladanan,
dan budaya organisasi yang mampu menanamkan rasa memiliki. Organisasi akan tetap hidup bukan
karena banyaknya nama dalam struktur kepengurusan, melainkan karena adanya
manusia yang bersedia menjaga nilai dan tanggung jawab di dalamnya. Berlembaga
bukan sekadar tentang menjadi pengurus, tetapi tentang proses menjadi manusia
yang lebih peduli, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kebermanfaatan bagi
sesama.
Di akhir tulisan ini, penulis
menekankan bahwa HMJ Akuntansi akan selalu menjadi ruang untuk bertumbuh,
belajar, dan berproses bersama. Dengan segala dinamika yang dihadapi, HMJ
Akuntansi diharapkan tetap hadir sebagai wadah yang mampu menjaga nilai
kekeluargaan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta melahirkan kader-kader
yang memiliki kepedulian dan integritas. Perjalanan organisasi mungkin tidak
selalu mudah, tetapi selama masih ada individu yang percaya, peduli, dan
bersedia berjuang bersama, HMJ Akuntansi akan tetap hidup dan terus berkembang
mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya.
----------------------------------------------------------
Muh Rezky/Ketua Bidang Advokasi &Aksi HMJ-Ak 2026