HMJ Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Jumat, 25 September 2026
September Hitam dan Ruang Demokrasi yang Menyempit: Refleksi atas Kebebasan Berpendapat dan Penanganan Aksi di Indonesia
Jumat, 04 September 2026
Disorientasi Kegiatan PBAK UIN Alauddin Makassar
Kampus seharusnya menjadi ruang yang bebas bagi tumbuhnya pemikiran kritis, kebebasan akademik, dan pertukaran gagasan. Kehadiran aparat militer dalam kegiatan kampus, terlebih dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), patut dipertanyakan. PBAK pada dasarnya merupakan ruang pengenalan kehidupan akademik kepada mahasiswa baru, yakni bagaimana budaya belajar di perguruan tinggi, bagaimana mahasiswa menjalankan perannya, serta bagaimana mereka memahami lingkungan akademiknya.
Saya tidak mempersoalkan apakah materi yang disampaikan benar atau salah. Bisa saja materi mengenai kedisiplinan, wawasan kebangsaan, bela negara, atau ketahanan nasional memang memiliki substansi yang baik. Persoalannya justru terletak pada siapa yang diberi ruang untuk menyampaikan dan menentukan arah materi tersebut dalam lingkungan kampus. Ketika aparat militer mulai mendapatkan ruang dalam kegiatan akademik, kita perlu bertanya apa urgensinya? Apa dasar kerja samanya? Siapa yang menentukan materi tersebut? dan apakah mahasiswa dilibatkan dalam prosesnya, atau mahasiswa baru hanya ditempatkan sebagai peserta yang menerima materi secara satu arah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat kecenderungan meluasnya peran militer ke berbagai ruang sipil. Militer yang seharusnya memiliki fungsi utama dalam pertahanan negara kini semakin sering hadir dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Dari urusan desa, program pangan, hingga berbagai aktivitas sipil lainnya, batas antara ruang militer dan ruang sipil menjadi semakin kabur. Dan kini, ruang kampus pun mulai disentuh.
Kampus bukan barak. Mahasiswa bukan prajurit yang harus dibentuk melalui pendekatan komando. Kehidupan akademik justru dibangun melalui diskusi, perdebatan, kebebasan berpikir, dan kemampuan mempertanyakan sesuatu. Karena itu, ketika kehadiran militer di kampus dianggap sebagai sesuatu yang normal tanpa sedikit pun mempertanyakan konteks dan urgensinya, saya justru merasa ada persoalan yang lebih besar, yakni sejak kapan kehadiran aparat di ruang akademik otomatis dianggap sebagai sesuatu yang positif?
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika mahasiswa yang mencoba mempertanyakan atau menolak masuknya militer ke ruang kampus justru mendapatkan tekanan hingga ancaman Drop Out (DO). Kalau benar mahasiswa dapat diancam hanya karena menyampaikan kritik terhadap kebijakan atau kegiatan kampus, maka persoalannya bukan lagi sekadar tentang boleh atau tidaknya pihak militer hadir dalam PBAK. Ini sudah menyentuh persoalan yang jauh lebih fundamental, apakah kampus masih menjadi ruang yang aman untuk berbeda pendapat? Sungguh kasihan mahasiswa baru yang dimana haru pertamanya mengenal lingkungan kampus justru mendapatkan rasa tidak aman dalam menyampaikan pendapat.
Ironisnya, mahasiswa yang seharusnya dilatih untuk berpikir kritis justru dapat dibuat takut dan diintimidasj ketika menggunakan hak kritisnya. Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa semua kehadiran aparat pasti buruk atau bahwa semua materi yang disampaikan oleh pihak militer pasti salah. Yang perlu dipersoalkan adalah batas kewenangan, relevansi, mekanisme pelibatan, dan dampaknya terhadap kebebasan akademik.
Maka, penolakan terhadap militerisasi kampus bukanlah bentuk kebencian terhadapnya. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk menempatkan setiap institusi pada fungsi dan ruangnya masing-masing. Militer memiliki peran penting dalam pertahanan negara, sementara kampus memiliki tugas membangun pengetahuan, kebebasan akademik, dan daya kritis mahasiswa. Keduanya dapat sama-sama penting tanpa harus saling mengambil ruang.
Kalau kritik dibalas dengan ancaman, sementara kehadiran aparat justru dinormalisasi tanpa ruang dialog, maka mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan hanya orientasi PBAK, tetapi juga, ke mana sebenarnya arah kampus ini sedang dibawa.
-----------------------------------------
Hany Khaylila/Ketua Bidang Penalaran dan Keilmuan HMJ-Ak Periode 2026
Kamis, 13 Agustus 2026
Ketika Komitmen Mulai Memudar: Mengembalikan Makna Berlembaga sebagai Ruang Pembentukan Karakter
Pada titik tertentu, sebagian pengurus mulai kehilangan konsistensi. Kehadiran dalam kegiatan berkurang, tanggung jawab tidak lagi menjadi prioritas, dan organisasi mulai dipandang sebagai beban. Fenomena ini menjadi pertanyaan penting: apakah persoalan utama organisasi mahasiswa terletak pada kurangnya minat berlembaga, atau justru pada hilangnya pemahaman tentang makna berorganisasi itu sendiri?. Berlembaga seharusnya tidak dimaknai hanya sebagai aktivitas mengisi struktur kepengurusan. Organisasi merupakan ruang pembelajaran yang membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter seseorang. Ketika seseorang memilih menjadi bagian dari organisasi, ia tidak hanya menerima sebuah jabatan, tetapi juga menerima tanggung jawab moral untuk menjaga nilai dan tujuan bersama.\
Paulo Freire menjelaskan dalam buku pendidikan kritisnya yang memandang bahwa pendidikan bukan hanya proses menerima pengetahuan, tetapi proses membangun kesadaran terhadap realitas. Jika gagasan ini diterapkan dalam organisasi mahasiswa, maka organisasi bukan hanya tempat menjalankan program kerja, melainkan ruang untuk membangun kesadaran kritis, kepedulian sosial, dan kemampuan memahami persoalan bersama. Dengan demikian, keberadaan anggota dalam organisasi seharusnya tidak berhenti pada kehadiran fisik, tetapi juga keterlibatan pikiran dan kepedulian.
Sejalan dengan yang dikatakan, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di lingkungan kampus, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan lingkungan sosial. Organisasi mahasiswa menjadi salah satu ruang pendidikan tersebut. Melalui dinamika organisasi, seseorang belajar mengenai kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, serta bagaimana menghadapi perbedaan. Artinya, nilai-nilai organisasi tidak terbentuk melalui slogan, tetapi melalui proses yang dijalani bersama.
Namun, proses pembentukan karakter tersebut membutuhkan budaya organisasi yang sehat. Peter M. Senge melalui konsep learning organization menjelaskan bahwa organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu terus belajar dan berkembang melalui pengalaman bersama. Organisasi tidak hanya membutuhkan anggota yang mampu menjalankan tugas, tetapi juga lingkungan yang mendorong setiap individu untuk berkembang. Ketika organisasi hanya berorientasi pada penyelesaian program kerja tanpa memperhatikan perkembangan anggotanya, maka rasa memiliki akan semakin sulit tumbuh.
Dalam konteks organisasi yang menjunjung sistem kekeluargaan, nilai kebersamaan menjadi fondasi penting. Robert D. Putnam menjelaskan konsep social capital sebagai kekuatan yang lahir dari kepercayaan, hubungan sosial, dan kerja sama antarindividu. Organisasi yang memiliki modal sosial kuat akan memiliki anggota yang saling mendukung dan merasa bertanggung jawab terhadap tujuan bersama. Sebaliknya, ketika hubungan antaranggota hanya bersifat formal, maka organisasi akan kehilangan ikatan emosional yang menjadi sumber kekuatannya.
Permasalahan tanggung jawab dalam organisasi juga tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan individu. Sering kali seseorang kehilangan semangat bukan karena tidak memiliki kepedulian, tetapi karena organisasi belum mampu menciptakan ruang yang membuat mereka merasa dihargai dan dibutuhkan. Oleh karena itu, organisasi perlu melakukan evaluasi terhadap budaya internalnya: apakah setiap anggota diberikan ruang untuk berkembang, apakah komunikasi berjalan dengan baik, dan apakah setiap kontribusi dihargai.
Erich Fromm pernah membedakan antara orientasi "memiliki" (having) dan "menjadi" (being). Dalam konteks organisasi, seseorang yang hanya berorientasi pada "memiliki" jabatan akan melihat organisasi sebagai tempat memperoleh posisi dan pengakuan. Sementara seseorang yang berorientasi pada "menjadi" akan melihat organisasi sebagai proses membentuk diri, belajar, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Perbedaan cara pandang inilah yang menentukan kualitas seseorang dalam berlembaga.
Pada akhirnya, tantangan organisasi mahasiswa bukan hanya bagaimana menarik kader untuk bergabung, tetapi bagaimana menjaga kesadaran mereka terhadap nilai perjuangan yang dibangun bersama. Jabatan dapat diberikan melalui proses seleksi, tetapi rasa tanggung jawab tidak dapat dipaksakan melalui aturan. Ia tumbuh dari kesadaran, keteladanan, dan budaya organisasi yang mampu menanamkan rasa memiliki. Organisasi akan tetap hidup bukan karena banyaknya nama dalam struktur kepengurusan, melainkan karena adanya manusia yang bersedia menjaga nilai dan tanggung jawab di dalamnya. Berlembaga bukan sekadar tentang menjadi pengurus, tetapi tentang proses menjadi manusia yang lebih peduli, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kebermanfaatan bagi sesama.
Di akhir tulisan ini, penulis menekankan bahwa HMJ Akuntansi akan selalu menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar, dan berproses bersama. Dengan segala dinamika yang dihadapi, HMJ Akuntansi diharapkan tetap hadir sebagai wadah yang mampu menjaga nilai kekeluargaan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta melahirkan kader-kader yang memiliki kepedulian dan integritas. Perjalanan organisasi mungkin tidak selalu mudah, tetapi selama masih ada individu yang percaya, peduli, dan bersedia berjuang bersama, HMJ Akuntansi akan tetap hidup dan terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya.
----------------------------------------------------------
Muh Rezky/Ketua Bidang Advokasi &Aksi HMJ-Ak 2026
Jumat, 24 Juli 2026
HMJ-AK UIN Alauddin Makassar Sukses Laksanakan Bakti Sosial 2026: Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat
Himpunan Mahasiswa Jurusan
Akuntansi (HMJ-AK) UIN Alauddin Makassar telah melaksanakan salah satu program
kerja yaitu Bakti Sosial (BAKSOS) dengan tema "Melangkah Bersama Mahasiswa
Dari Ruang Akademik ke Ruang Pengabdian Dalam Menumbuhkan Jiwa Sosial Melalui
Aksi Nyata" yang berlokasi di Desa Lembang Teko, Kecamatan Tombolo Pao,
Kabupaten Gowa, tepatnya pada Dusun Lembang Teko. Program kerja ini berlangsung
selama Sembilan (9) hari yang terhitung dari tanggal 15 – 23 Juli 2026. Kegiatan
ini merupakan salah satu program kerja Pengabdian Kepada Masyarakat, BAKSOS
adalah salah satu wadah yang dihadirkan oleh HMJ-Ak untuk mengimplementasikan
salah satu Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. Bakti
Sosial ini dilaksanakan selama sembilan (9) hari dan hanya berfokus pada satu
dusun yaitu Dusun Lembang Teko. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 70 mahasiswa
Akuntansi mulai dari angkatan 2023 sampai dengan 2025. Kegiatan ini juga
diharap dapat memberikan dampak positif bagi warga sekitar dan menunjukkan
sinergi antar mahasiswa akuntansi dan masyarakat desa.
Berangkat
dari tema yang digunakan yaitu Melangkah Bersama Mahasiswa Dari Ruang Akademik
ke Ruang Pengabdian menyampaikan bahwasannya kegiatan ini adalah bentuk
implementasi apa yang didapat dibangku perkuliahan lalu tertuang atau diberikan
kepada masyarakat khususnya masyarakat yang berada dipelosok. Kegiatan ini
dimulai dengan Seminar Program Kerja, yaitu bentuk pemaparan program kerja
kepada masyarakat desa dalam Bakti Sosial 2026 ini. Program Kerja yang
teman-teman peserta baksos laksanakan yaitu: Bina Ilmu Anak Desa, Aksi Peduli
Lingkungan, Seminar Ketahanan Pangan, Nobar Film Edukasi, Sosialisasi PHBS,
Penyaluran Al-Qur’an, Festival Anak Saleh, Pekan Olahraga, Penghijauan
(penanaman), Suaraloka, dan Pesta Rakyat.
Kegiatan
yang berlangsung ini menciptakan berbagai program kerja seperti yang telah
dirincikan, salah satu program kerja utama yaitu Bina Ilmu Anak Desa yang
dimana beberapa peserta BAKSOS datang ke sekolah yang ada di Dusun Lembang
Teko, khususnya SD Lembang Teko dan SMP Negeri 8 SATAP Lembang Teko untuk
memberikan pembelajaran bagi anak-anak yang bersekolah disana. Tak hanya
mengajar saja, peserta Bakti Sosial juga mengadakan Edukasi Digitalisasi kepada
anak sekolah SMP dan mengajarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk
anak SD. Bina Ilmu Anak Desa tidak hanya berfokus pada ajar mengajar disekolah,
tetapi ada juga bentuk pengajaran lain yang diberikan yaitu mengajarkan anak
Baca Tulis Qur’an pada TPA Nurul Iman Lembang Teko.
Disamping
memberikan edukasi dalam program kerja Bina Ilmu, BAKSOS HMJ-Ak juga telah
sukses mengadakan lomba anak saleh untuk anak-anak dan lomba olahraga untuk
anak-anak dan orang dewasa. Lomba anak saleh diantaranya ada lomba Adzan,
Praktek Shalat, dan Lomba Surah Pendek. Sementara itu lomba olahraga yang diselenggarakan
adalah lomba Lari Karung dan corong air untuk anak-anak serta lomba Estafet air
dan Bola Volly untuk dewasa. Tak hanya dari segi Lomba ada juga kegiatan
penyaluran Al-quran yang dilakukan didua (2) mesjid yang ada di Dusun Lembang
Teko dan total ada sekitar 124 mushaf Al-Qur’an yang disumbangkan dan berasal
dari pihak sponsor serta ada penyaluran & penanaman bibit sirsak dan jeruk
pada warga sekitar Desa Balassuka. Sementara pada penghujung kegiatan ada salah
satu program kerja yang hadir yaitu Malam Pesta Rakyat, didalamnya berisi
penampilan-penampilan menarik dari peserta BAKSOS dan Masyarakat sekitar, tak
hanya berisi penampilan saja pada malam pesta rakyat juga berisi pengumuman
& penyerahan hadiah untuk juara pada lomba-lomba yang telah dilaksanakan
sebelumnya.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan, Bakti Sosial HMJ-AK UIN Alauddin Makassar Tahun 2026 diharapkan tidak hanya menjadi program kerja tahunan yang bersifat seremonial, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat Dusun Lembang Teko diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan melalui peningkatan pengetahuan, kepedulian terhadap lingkungan, penguatan nilai-nilai keagamaan, serta terciptanya hubungan yang harmonis antara civitas akademika dan masyarakat. Selain memberikan dampak positif bagi warga, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepekaan sosial, jiwa kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, serta tanggung jawab sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Besar harapan agar semangat kebersamaan, kepedulian, dan pengabdian yang telah ditanamkan melalui Bakti Sosial HMJ-AK UIN Alauddin Makassar Tahun 2026 dapat terus terjaga, menjadi inspirasi bagi pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang, serta memperkuat peran mahasiswa sebagai insan akademis yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.
Jumat, 17 Juli 2026
Bakti Sosial Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) UIN Alauddin Makassar Tahun 2026 Hadirkan Manfaat melalui Penyaluran Al-Qur'an di Desa Balassuka
Desa Balassuka, 17 Juli 2026 – Perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satu pilar utama dari Tri Dharma adalah pengabdian kepada masyarakat yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial. Berlandaskan semangat tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar tahun 2026 menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial di Desa Balassuka, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa.
Salah satu rangkaian utama dalam Bakti Sosial tersebut adalah penyaluran 124 mushaf Al-Qur'an yang dilaksanakan pada Jumat, 17 Juli 2026. Bantuan tersebut disalurkan kepada Masjid Nurul Iman dan Masjid Babul Jannah yang berlokasi di Dusun Lembang Teko, Desa Balassuka, serta diterima secara langsung oleh Pengurus Mesjid masing-masing.
BAKTI SOSIAL HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI (HMJ-Ak) PERIODE 2026 DI DESA BALASSUKA KECAMATAN TOMBOLO PAO KABUPATEN GOWA
Ketua panitia, Rifaldi Saputra Nasir, mengatakan bahwa kegiatan bakti sosial ini yang menjadi peserta dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar Angkatan 23, 24, dan 25. Kegiatan kali ini diharapkan akan memenuhi tridharma perguruan tinggi dan juga menumbuhkan jiwa sosial dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar kepada teman-teman peserta.
Ketua HMJ-Ak, Muh Fuad Agung PM mengatakan bahwa kegiatan kali ini akan berlangsung selama 9 hari dan mempunyai 10 program kerja yang akan dilaksanakan di Desa Balassuka Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.
Kamis, 09 Juli 2026
Kemana Perginya Tanggung Jawab Kampus atas Camaba yang Tak Mampu Bayar UKT?
Permasalah sesederhana ini semestinya bisa di selesai dengan cepat. Nyatanya tidak. Kalau ditarik ke akar paling dasar, negara ini sebenarnya sudah punya komitmen tegas soal pendidikan sejak awal berdirinya. Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyebut mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu tujuan negara, dan Pasal 31 UUD 1945 menegaskannya lebih jauh: setiap warga negara berhak atas pendidikan, dan negara wajib mengusahakan satu sistem pendidikan nasional untuk itu.
Dari sana lahir sistem UKT dengan prinsip subsidi silang dan afirmasi bagi mahasiswa kurang mampu. Di atas kertas cita-citanya mulia, bahkan berlapis hukum kuat. Tapi di lapangan, camaba yang kesulitan bayar tepat waktu justru harus berjuang sendirian menghadapi birokrasi yang lambat merespons seolah kendala finansial sesaat itu murni urusan pribadi, bukan sesuatu yang sudah punya jalan keluar resmi dari kampus.
--------------------------------------
Bidang Advokasi & Aksi HMJ-Ak 2026
September Hitam dan Ruang Demokrasi yang Menyempit: Refleksi atas Kebebasan Berpendapat dan Penanganan Aksi di Indonesia
September Hitam adalah bentuk refleksi gerakan mahasiswa merawat ingatan atas pelanggaran HAM yang terjadi di bulan September, dengan bebe...
-
Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar menyelenggarakan pembukaan ke...
-
Bersama UKK KSR - PMI unit 107 UIN Alauddin Makassar, Panitia Accounting Fair 2025 gelar donor darah Kegiatan donor darah yang digelar oleh ...
-
Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-AK) UIN Alauddin Makassar berhasil menyelenggarakan kegiatan Rubrik Pendidikan Alternatif (RPA) de...







