Rabu, 13 Mei 2020

AKUNTANSI DAN KRISIS INTEGRITAS

AKUNTANSI DAN KRISIS INTEGRITAS


Hardiwansyah - Akuntansi 018

    Lahirnya generasi unggul yang menjadi kebanggaan bangsa, tentunya tidak lepas dari peran pendidikan yang sangat penting. Melalui pendidikan, seorang anak mulai diisi dengan berbagai disiplin ilmu yang dapat menjadi pondasi bagi pola pikir dan karakter anak untuk menghadapi perjalanan hidupnya dimasa yang akan datang. Saya mengutip sebuah pernyataan dari khalifah Ali bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Kalimat yang singkat ini memberi indikasi bahwa kita harus membekali generasi pelanjut bukan hanya untuk saat ini, tapi dipersiapkan untuk menghadapi perjalanan hidup yang sulit dimasa yang akan datang, agar mereka mampu bersaing dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

Untuk menjadi Generasi yang Andal dan Berprestasi, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Anak yang lahir tidak bisa instan menjadi pintar tanpa melalui proses didikan. Seperti yang saya alami dalam menempuh pendidikan. Di bangku sekolah dasar mulai diperkenalkan bagaimana bersikap sopan dan santun, berlanjut ke jenjang Sekolah Menengah Pertama, dibekali dasar ilmu pengetahuan, di Sekolah menengah Atas diajarkkan untuk berani berpendapat dan di perguruan tinggi diharapkan menjadi mahasiswa yang mampu berfikir kritis menilai benar atau salahnya suatu hal melalui penelitian. Seperti inilah gambaran singkat jenjang pendidikan kita. 

Akan tetapi, dengan melihat kondisi saat ini, perkembangan teknologi yang semakin modern, jalur informasi yang semakin cepat, revolusi industri 4.0 yang menuntut dunia kerja beralih menggunakan tenaga mesin dari pada tenaga manusia akan membuat kita gagal bersaing jika hanya mengandalkan pembelajaran di kelas yang luasnya hanya 10x10 meter. Nah, apa yang bisa menunjang kemampuan kita untuk menjadi generasi yang unggul?. Sering kali saya mendengar dosen mengatakan pembelajaran di kelas hanya menunjang 20 persen, sedangkan 80 persen pelajaran diperoleh diluar kelas. Itu berarti kita harus menambah wawasan kita diluar daripada jam pelajaran di kelas. 

Ada banyak kegiatan yang saya pikir sangat penting untuk membentuk kepribadian yang unggul antara lain meningkatkan budaya literasi, aktif di berbagai kepanitiaan, organisasi, mengikuti pelatihan, aktif dalam forum diskusi atau seminar dan berpartisipasi dalam perlombaan. Pengalaman dari kegiatan seperti inilah yang dapat menunjang skill dan kemampuan kita menjadi generasi pelanjut yang kuat. 

Terfokus pada bidang keilmuan yang saya tekuni yakni Jurusan Akuntansi, saya melihat prospek kerja seorang akuntan yang cukup luas dan dibutuhkan disetiap instansi dan perusahaan, hal ini menjadi faktor pendorong banyaknya peminat untuk program studi akuntansi di berbagai jalur seleksi masuk perguruan tinggi, dan menjadi cerminan akan terciptanya alumni-alumni Akuntan yang sangat banyak. Dengan berbekal keterampilan dan keilmuan yang dimiliki, mereka bersaing untuk masuk di berbagai instansi atau perusahaan yang membutuhkan seorang akuntan. Namun, yang menjadi pokok persoalan, apakah Keterampilan dan penguasaan terhadap bidang akuntansi ini dilandasi oleh pendidikan karakter dan moral, ataukah hanya sebatas pada penguasaan akademik saja?.
   
Saya berfikir seperti ini karena melihat begitu banyak kasus-kasus kecurangan yang dilakukan seorang akuntan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Seperti terjadinya Fraud, manipulasi laporan keuangan dan pemberian opini oleh akuntan publik atau auditor yang tidak transparan. Kecurangan ini, pernah terjadi pada perusahaan multipembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (PT SNP), bahkan terjadi di perusahaan multinasional British Telkom perusahaan besar milik inggris.

Kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan tugas sebagai seorang akuntan disebabkan rendahnya pendidikan moral. Mereka adalah orang-orang yang mahir dalam akademik tapi krisis dalam hal moral dan akhlak. Inilah yang menerpa pendidikan kita di Indonesia, begitu banyak generasi muda yang tidak dapat bersaing karena lemah dalam akademik, ada juga yang ahli dalam akademik tetapi lemah dalam hal etika, sehingga yang terjadi adalah berbagai bentuk kecurangan terjadi di mana-mana.
   
Saya kembali mengutip sebuah kalimat yang mengatakan, “Letak akhlak diatas dari pada ilmu”. Jika kita memahami isi dari kalimat ini, kita akan menemukan sebuah makna bahwa akhlak akan menjadi alat kontrol bagi ilmu yang kita miliki agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Berkaitan dengan hal ini, dalam akuntansi dikenal dan diberlakukan prinsip dan etika profesi akuntan. Dengan tujuan menciptakan akuntan yang handal, berkarakter, dan sesuai dengan standar akuntansi nasional dan internasional serta diharapkan mampu untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk kecurangan. 

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), salah satu prinsip dasar etika profesi akuntan Yaitu prinsip integritas. Apa yang dimaksud dengan prinsip integritas?.  Integritas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, dan dalam berbagai hal yang dihasilkan. Orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang unggul, jujur dan memiliki karakter kuat. Sikap yang teguh mempertahankan prinsip dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.

Seorang akuntan profesional harus memiliki integritas yang tinggi. Sebab hal inilah yang akan menjadi lirikan publik agar menyimpan kepercayaan kepada pemberi jasa akuntansi. Berbagai kecurangan dan pelanggaran dalam bidang kerja akuntan menjadikan publik mengalami degradasi kepercayaan, maka solusi yang tepat menghadapi masalah seperti ini adalah meningkatkan kinerja melalui prinsip integritas, yaitu, pemahaman terhadap karakter dan nilai-nilai moral. Selain itu, penguasaan akademik terhadap disiplin keilmuannya juga harus sesuai standar akuntansi yang berlaku. Keterampilan lain atau soft skill juga akan sangat mendukung daya saing dalam dunia kerja, misal jiwa kepemimpinan yang tinggi, keberanian berbicara di depan umum, komunikasi yang lancar dan pemberian pelayanan yang baik, akan sangat menentukan kelangsungan profesi kita ke depan.
     
Saya sendiri memilih jurusan akuntansi di perkuliahan karena akuntansi tidak hanya mengajarkan Tentang uang, bagaimana kita menghitung dan mengelolah keuangan dengan baik. Akan tetapi, akuntansi adalah ilmu yang mengajarkan tentang ketelitian, tanggung jawab dan kejujuran. Maka dari itu, menjadi seorang akuntan adalah hal yang sangat baik, apabila dilandasi dengan akhlak yang baik pula. Meskipun berorientasi pada kepentingan dunia namun jangan sampai melupakan orientasi terhadap kehidupan akhirat. 

Senin, 11 Mei 2020

Abang Covid : Ambisinya Menguasai Dunia

Abang Covid : Ambisinya Menguasai Dunia

Sahrul Ramadan - Akuntansi 017

Entah, saya harus memulai dari mana tulisan ini. Covid-19? Hmm..., siapa dia? orang mana dia? itulah beberapa gambaran pertanyaan umum para orang tua di kampung.

Abang covid-19 ini terlahir di salah satu daerah yang bernama Wuhan. Awal lahirnya abang covid diakhir tahun 2019 disambut dengan suka cita oleh masyarakat pada saat itu, bahkan menjadi sebuah trending topik seluruh dunia, tak terkecuali negara yang dijuluki negara +62.

World Health Organization (WHO), sebagai organisasi kesehatan dunia pun bersepakat memberikan julukan abang covid sebagai "COVID-19" dan menjadi sebuah wabah hampir separuh bumi. Wahhh sungguh beruntung, mungkin bentar lagi mau dibuatkan sebuah monumen nih.

Pada awal bulan Maret covid-19 sudah menyentuh negara Indonesia dan menyebar begitu sangat pesat. Pemerintah dengan sigap memberikan himbauan agar seluruh masyarakat Indonesia jangan panik, dan segala aktivitas di luar rumah itu ditiadakan. Dengan adanya himbauan ini, secara tidak langsung banyak orang mengumandangkan dan mengucapkan mantra "di rumah aja", yang tak lain hanya untuk memutuskan tali rantai penyeberan corona virus ini.

Kaum rebahan yang dicap sebagai label pemalas, pengangguran atau sampah masyarakat, kini secara tidak langsung hadir sebagai pahlawan di tengah pendemi ini. Ibarat sebuah strategi yang sering dimainkan Jose Mourinho, para tenaga medis adalah para striker yang siap meyerang dan membantu para korban yang teridentifikasi positif corona, dan kaum rebahan sebagai gelandang bertahan yang siap membantu memutuskan serangan virus ini. Saya salah satu dari kaum tersebut, dan mewakili kaum rebahan lainnya, berbangga diri karena telah berkontribusi memutuskan rantai pandemi ini. "tidurmu ataupun magermu adalah salah satu bentuk perlawanan".

Ajakan di rumah aja, social distancing atau jaga jarak itu menjadi salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah. Terbukti dengan adanya pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Mulanya PSBB ini hanya diterapkan di Ibu kota dan akhirnya diterapkan juga di beberapa kota yang ada di Indonesia. Akibatnya kegiatan sosial dan ekonomi di beberapa kota menjadi lumpuh. Mesin-mesin pabrik yang dulunya beroperasi kini berhenti, tempat-tempat peribadatan ditutup, proses belajar-mengajar terganggu, seraya mantra ajakan "di rumah aja" adalah sebuah magnet besar yang bisa menarik semua individu, kalangan, ras dan golongan untuk tetap stay di rumah aja.

Berhentinya mesin-mesin pabrik untuk beroperasi berakibat pada kelas buruh yang terkena pemutusan hak kerja (PHK). Hmm..., apakah mantra yang sering diucapkan, dilantunkan atau digemahkan oleh banyak orang untuk tetap di rumah masih menjadi solusi bagi mereka yang baru kena PHK? Ataukah ajakan tetap di rumah hanya berlaku bagi mereka yang memiliki tingkat perekonomian menengah saja? Sebenarnya  masih banyak lagi korban dari pandemi ini seperti pekerja serabutan, ojol, buruh panggul pelabuhan, yang dimana mereka semua adalah para pekerja informal, yang notabenenya mereka dituntut, dan dipaksa oleh keadaan, yang bilamana ketika ia tidak bekerja siapa menjamin keberlangsungan hidup mereka dan keluarganya. Hahaha... bukannya mati karena pandemi, malah mati menahan kelaparan.

Hari ini para orang tua harus berpikir secara ekstra dan memutar otaknya 180 derajat hanya untuk memikirkan agar supaya nasi tetap berada diatas tempatnya. Saya teringat beberapa hari yang lalu lewat disebuah jalan dan melihat beberapa orang berkerumun di bahu jalan. Saya pikir bakal ada sebuah konser, dan tak taunya mereka sedang antri dan menunggu disebutkan namanya satu persatu, serta membawa beberapa barang digenggaman tangan. Sebenarnya saya tidak mau menyebutkan nama tempat tersebut, tapi sebut saja PEGADAIAN (instansi naungan BUMN).

Pegadaian dengan jargonnya " Mengatasi Masalah Tanpa Masalah" menjadi sebuah langkah kongkrit yang diambil oleh para orang tua, yang sebagian besar adalah korban dari PHK di tempat kerjanya. Saya sebagai seorang mahasiswa yang memiliki background ekonomi yang dibesarkan oleh keluarga petani, sebuah negara yang mengutamakan para investor, dan lingkungan yang cukup memadai untuk merintis sebuah usaha. Awalnya saya ragu dengan usaha yang akan nantinya saya rintis ini, yang tak lain membuat sebuah usaha peternakan anak-anak dari abang covid, yaitu corona. Tapi melihat dengan keberhasilan yang dicapai abang covid, dengan menyandang sebuah gelar COVID-19 dari WHO, menguasai separuh dunia, dan dengan mengandalkan modal yang murah "Ketakutan dan Kelaparan".

Pengurangan atau pembatasan aktivitas sosial boleh saja, selama masih memiliki maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi khalayak banyak, serta tidak mengesampingkan dan memutuskan rantai kemanusiaan. Di bulan yang suci dan nan berkah ini, dijadikan sebagai wadah ataupun sebuah momentum oleh beberapa orang yang memiliki sedikit harta yang lebih sebagai ajang kemanusiaan di tengah pandemi ini. Hmm..., semoga saja kebaikan Anda saat ini tak seperti para wakil rakyat yang hanya datang saat pesta demokrasi. Hehe, jangan tersinggung ya pak, kan fakta.

Sabtu, 09 Mei 2020

Antara rezeki dan ikhtiarmu kawan


ANTARA REZEKI DAN IKHTIARMU KAWAN

Hardiwansyah - Akuntansi 018

Dunia ini dipenuhi dengan golongan orangAda yang kaya raya, hidup bermewah-mewahan bergelimang harta, dan adapula orang miskin yang hidup berkecukupan dengan segala keterbatasannya. Semua telah dideklarasikan mendapat porsinya masing-masing sesuai batas ikhtiarnya.

Ketika kita membahas tentang rezeki, maka semua orang berhak atasnya. Baik si kaya atau si miskin, laki-laki atau perempuan, dermawan atau kikir, berkeyakinan ataupun tidak, akan tetap mendapat rezeki sebanding dengan ikhtiarnya.

Lalu, mengapa ada orang yang bekerja siang hingga malam, banting tulang, memeras keringat tapi rezekinya terasa tak sebanding dengan usaha yang dilakukannya? Mengapa pula ada orang yang hanya bekerja seadanya tapi rezekinya mengalir begitu melimpah? Siapakah yang sebenarnya berhak membagi rezeki itu? Apakah benar rezeki telah ditetapkan dan pasti akan diberikan? Jika demikian, kenapa kita harus berikhtiar?

Memang butuh daya analisis yang mendalam untuk memahami persoalan rezeki. Dan saya pikir jalan pemahaman yang bisa menjawab persoalan ini adalah dengan menggunakan kaidah Al-Qur’an.

Dibeberapa ayat Al Qur’an seperti yang tertulis dalam (Q.S 51:22) bahwa Allah SWT telah menetapkan (sebab) rezeki di langit dan apa yang dijanjikan kepada manusia. Di ayat lain juga dituliskan bahwa Allah SWT menjadikan langit dan bumi sebagai sumber rezeki untuk setiap makhluk-Nya.

Jika ditetapkan di langit dan telah dijanjikan untuk diberikan, lalu apa gunanya Ikhtiar?

Perlu kita pahami kaidah utamanya. Bahwa Allah SWT telah menetapkan rezeki setiap hambanya di langit, sementara manusia tinggal di bumi. Mampukah manusia mengambil rezeki itu langsung dari langit? Saya rasa jawabannya telah kita ketahui bersama. Oleh karena itu berikhtiar menjadi poin penting sebab diturunkannya rezeki.

Alasan kedua mengapa ikhtiar di perlukan yaitu, bahwa bumi menjadi tempat berlangsungnya kehidupan umat manusia yang Allah SWT ciptakan dengan sangat luas. Sehingga ada kesempatan dan peluang untuk manusia mencari rezeki di banyak tempat. Sederhananya adalah seseorang tinggal di bumi bagian timur, ternyata Allah SWT turunkan rezekinya di belahan bumi bagian barat. Bagaimana cara agar seseorang ini mampu memperoleh rezeki yang telah diberikan? Sudah pasti ia mendatangi tempat itu, atau orang Bugis sering menyebutnya dengan budaya merantau. Lagi-lagi terjawab bahwa ikhtiar adalah salah satu sebab penting untuk mendapatkan rezeki.

Jadi dengan memahami dan menganalisa kaidah diatas saya merasa bahwa penjelasan ini mampu memberi gambaran kepada kita mengapa ikhtiar penting untuk dilakukan. Sebab Allah SWT menetapkan kadar rezeki  manusia sesuai dengan kadar usaha manusia itu sendiri.

Kamis, 07 Mei 2020

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

M.Agung Ishal - Akuntansi 017

Pada tulisan ini saya ingin sedikit bercerita tentang keresahan yang ditimbulkan dari kuliah yang disebut “Daring ini. Sebelumnya, kita ketahui bahwa diawal tahun 2020 dunia digegerkan dengan peristiwa yang tak pernah terduga sebelumnya dan begitu cepat hingga tak ada satupun negara yang memperkirakan kejadian ini. Yaitu telah lahir virus jenis baru yang  sangat mematikan bernama COVID-19 yang menjadi biang kerok hingga tulisan ini terlahir. Virus ini mulai muncul disalah  satu daerah di China dan menyebar sangat cepat hingga hampir seluruh dunia tak luput dari serangan virus ini, World Health Organization (WHO) pun telah menetapkan virus ini sebagai wabah pandemi.

 Virus ini mulai menikmati cuaca Indonesia pada awal bulan Maret dan sebulan kemudian hampir diseluruh daerah Indonesia telah terjangkit virus tercinta ini. Pada akhirnya, awal dari permasalahan ini pun muncul. Dengan cepat pemerintah mengambil tindakan  dengan mengeluarkan peraturan pemerintah yang membatasi seluruh aktivitas diluar rumah menjadi #DirumahAja. Hingga sekolah dan perguruan tinggi pun tak luput dari kebijakan tersebut, akhirnya seluruh kegiatan belajar mengajar dipindahkan dari kuliah tatap muka menjadi kuliah tutup muka (Daring). Awalnya saya sangat senang tapi setelah berjalan 1 minggu, para dosen dengan tak berprikemanusian berlomba-lomba memberikan tugas yang tak kunjung reda. Ini mengingatkanku pada saat  masih berada dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dimana pada saat itu saya mengikuti pelajaran penjaskes dengan lari estafet, ini persis dengan tugas yang diberikan oleh para dosen tercinta.


Dengan dialihkannya kuliah ini menjadi “Daring menimbulkan begitu banyak permasalahan dan keresahan yang sangat krusial. Dimana pada saat itu kita baru saja melakukan pembayaran UKT/SPP yang menurut saya selaku anak petani dengan uang pas-pasan, sangat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mengumpulkannya, juga biaya kos-kosan yang tidak murah. Permasalahan ini sangat mengganggu pikiran saya dan menimbulkan pertanyaan, kemana uang UKT/SPP yang telah saya bayarkan? dan untuk siapa?

Sampai saat ini belum  ada kejelasan ataupun kebijakan dari pihak kampus mengenai hal ini, baik itu berupa subsidi kuota atau pengemabalian uang UKT/SPP. Seandainya terjadi pengembalian UKT/SPP, maka mungkin sangat membantu bagi para mahasisiwa dalam bertahan melawan virus ini. Kita juga mengetahui bahwa kebanyakan dari mahasiswa itu bukan dari kalangan keluarga yang tergolong mampu dan tidak dipungkiri juga ada kemungkinan kepala  keluarga  yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat COVID-19 ini dan kemungkinan hanya itulah penghasilan satu-satunya yang mereka peroleh.

Baru-baru ini juga telah beredar luas sebuah surat yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama (Kemenag RI) yang menyatakan bahwa adanya pemotongan  pembayaran UKT/SPP minimal 10%. Walaupun dianggap tidak sebanding tapi setidaknya mampu mengurangi sedikit keresahan yang tengah dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa. Namun Belum sempat terealisasi, Kemenag RI mencabut kembali surat edaran tersebut. Saya tidak tahu apa yang merasukinya sehingga dia sangat mahir mempermainkan hati para mahasiswa. Ataukah mungkin dia terinspirasi dari seorang youtuber yang biasa melakukan PRANK? Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal seperti itu. Kita dapat menyimpulkan bahwa keprihatinan Kemenag RI  perlu dipertanyakan di tengah pandemi ini. Ataukah mungkin  kita dikategorikan sebagai pendapatan non pajak, dikarenakan pendapatan pajak pemerintah tengah mengalami penurunan drastis sehingga kita dianggap sebagai pendapatan non- pajak berpotensial?

Tiba pada kejadian tak mengenakkan yang telah saya alami baru-baru ini, ketika pada saat itu ada mata kuliah  yang bertepatan dengan habisnya paket kuota yang saya miliki hingga pada akhirnya saya dianggap tidak mengikuti mata perkuliahan tersebut. Jika UKT/SPP diperuntukkan untuk fasilitas kampus maka kuota internet dapat menjadi salah satu peruntukkannya. Betul jika seandainya dikatakan bahwa untuk mendapatkan nilai semester yang baik pada situasi ini, tergantung dari seberapa banyak kuota yang kalian miliki dan seberapa banyak biaya kuliah yang kalian miliki untuk membeli kuota internet. Buat apa kalian punya wawasan luas  jika jaringan dan kuota tidak mendukung? percuma saja karena patokan nilai itu  terletak pada  kualitas dan kuantitas kuota internet dan bukan pada wawasan kalian. Harga kuota internet di daerah pun bisa dikatakan sangat mahal bahkan tiga kali lipat dari harga normal di kota.  Disini peran pihak kampus sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan dan bukan malah  melimpahkan segala sesuatunya kepada para mahasiswa.

Di situasi yang seperti ini juga sangat diharapkan kepada pihak kampus untuk mampu bertindak cepat dalam menyelesaikan  permasalahan yang muncul akibat kuliah daring ini.

Selasa, 05 Mei 2020

MAHASISWA : HAK DAN LABELISASI

MAHASISWA : Hak dan Labelisasi

Andri Pranoto.

Semua orang saat ini mengalami masa yang sangat sulit, terkhusus bagi mahasiswa sekarang. Belum saja berlalu pandemi wabah saat ini, mahasiswa sudah banyak ditimpa masalah yang bertubi-tubi. Mulai dari pembatalan pemotongan SPP yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), aktivitas kuliah yang dirumahkan sehingga harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli kuota disaat keadaan ekonomi yang tidak karuan, pemberian tugas yang sudah tidak lagi sesuai dengan porsinya dan masih banyak masalah  yang tertuang dalam status Whatsapp yang saya baca.

Kita sama-sama mengetahui bahwa pada tanggal 6 april 2020 Kemenag RI mengeluarkan surat edaran tentang pengurangan SPP/UKT PTKIN akibat pandemi Covid-19, namun pada tanggal 20 April Kemenag RI mengeluarkan kembali surat edaran tentang pembatalan pengurangan SPP/UKT PTKIN. Setelah terbitnya surat edaran tentang pemotongan SPP/UKT mahasiswa menunggu kepastian tentang tindak lanjut dari surat edaran tersebut, namun pada akhirnya mahasiswa hanya menuai kekecewaan, bagaimana tidak mahasiswa sudah lama menanti kepastian dan tiba-tiba surat edaran tentang pembatalan pemotongan SPP/UKT itu terbit disaat mahasiswa masih menunggu tindak lanjut dari surat edaran yang pertama, serasa bertepuk sebelah tangan kan? Mungkin saja Kemenag RI terinspirasi dari youtuber-youtuber yang sering nge-PRANK dan mencoba untuk mengaplikasikannya terhadap mahasiswa dan sialnya hal itu berhasil. Setelah apa yang tengah terjadi, respon mahasiswa seperti apa? Ya jelas saja geram dong. Bagaimana tidak, mereka memberikan kami janji itu, namun mereka sendiri yang mengingkari janjinya. Sialan kami dikibuli!

Namun, tak semua mahasiswa geram melihat tindakan itu. Ada yang biasa-biasa saja dan ada pula yang memilih pasrah saja. Wajar mahasiswa sekarang dicetak untuk ditindas, nalar kritis mereka ditukar dengan jaminan nilai (A) dan label anak yang berakhlak mulia, taat, patuh, tunduk, dan sesekali bisa menjilat. Mahasiswa sekarang lebih memilih cari aman entah mengamankan nilai atau mengamankan muka dari birokrasi. Diam melihat perjuangan yang ada dan tidak melakukan apa-apa namun ikut  turut dalam euforia  kemenangan. Dasar mahasiswa kurang ajar.

Dunia pendidikan sekarang mungkin atau memang sudah sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, mahasiswa yang hanya sekedar bertanya saja dilabeli dengan sebutan mahasiswa kurang ajar sedangkan mahasiswa yang hanya diam melihat penindasan dan ketimpangan serta perampasan hak dilabeli dengan sebutan mahasiswa yang patuh, taat,  tunduk dan berakhlak mulia. Ataukah tenaga pengajar sekarang sedang bercanda? Mungkin saja. Yah seperti lawakan yang baru-baru ini dikeluarkan dari mulut bapak Prof. Hamdan Juhannis selaku Rektor UIN Alauddin Makassar penulis buku Melawan Takdir. Beliau berkata "Menuntut penurunan spp, menuntut kuota itu membuktikan bahwa sebenarnya ketangguhan karakter itu belum tercapai". Sedikit lucu namun lebih terlihat konyol. Jadi, mahasiswa yang menuntut penurunan SPP dikarenakan penentuan kategori uktnya yang tidak sesuai bapak sebut karakternya belum tangguh? Mahasiswa yang menuntut kuota karena harus mengeluarkan dana pribadi padahal mereka telah membayar SPP dan tidak menikmati fasilitas kampus bapak sebut karakternya belum tangguh? Mahasiswa bapak masih sadar bahwa hak mereka telah dirampas, makanya mereka menuntut. Atau memang bapak yang tidak sadar telah merampas hak mahasiswa bapak sendiri? Semoga bapak sadar dan cepat tersadarkan. Semoga saja!


Keadaan sekarang sudah sangat pelik, saatnya mahasiswa merebut haknya kembali. Semua harus diperjuangkan, yah pastinya dengan tindakan. Sekarang sudah bukan saatnya untuk cari aman, bukan hanya mampu mengoceh di status  Whatsapp saja, semua butuh tindakan karena sekarang hak kita telah dirampas. Seperti yang dikatakan oleh salah satu mantan mahasiswa yang sekarang memilih menjadi pebisnis muda "percumako marah-marah di status whatsapp, nda sampeji, dan muatan kritiknya minim". Yah semua itu akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan tindakan. Saat ini mahasiswa sedang melawan takdirnya, dan merebut kembali apa yang menjadi haknya.

Salam dari mahasiswa yang dilabeli kurang ajar karena bertanya.

Jumat, 01 Mei 2020

Inkonsistensi Kebijakan Kemenag, Ormawa FEBI Menolak Pembayaran UKT Semester Ganjil

Inkonsistensi Kebijakan Kemenag, Ormawa FEBI Menolak Pembayaran UKT Semester Ganjil

Video penolakan pembayaran UKT semester depan oleh ORMAWA FEBI UIN Alauddin Makassar (29/4/2020).
(Foto: Tangkapan layar video)

Setelah dikeluarkannya surat edaran dari Dirjen Pendis Kemenag RI perihal pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT/SPP) PTKIN akibat pandemi Covid-19, para mahasiswa setidaknya sedikit merasa lega dengan kebijakan tersebut. Hal ini dikarenakan Covid-19 ini sangat berdampak terhadap kondisi perekonomian mahasiswa selama beberapa bulan terakhir. Surat edaran itu dikeluarkan pada tanggal 6 April 2020.

Berikut ini poin pertama dalam surat edaran tersebut “Rektor/Ketua PTKIN melakukan pengurangan UKT Mahasiswa Diploma dan S1 dan SPP Mahasiswa S2 dan S3 pada semester Ganjil Tahun 2020/2021 dengan besaran pengurangan/diskon minimal 10% (sepuluh persen) dari UKT/SPP”

Namun, surat edaran tersebut belum ditindaklanjuti oleh Rektor, surat edaran kedua menyusul pada tanggal 20 April 2020 tentang pembatalan pengurangan UKT/SPP PTKIN. Kebijakan ini dilakukan karena adanya pemotongan anggaran kepada kementrian agama sebesar Rp. 2.020.000.000.000 (dua triliun dua puluh miliar rupiah), hal ini menyebabkan terbatasnya anggaran operasional dan penyelenggaraan PTKIN. 

Kabar ini kemudian menjadi topik yang ramai diperbincangkan di kalangan mahasiswa. Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar merespon kebijakan pembatalan pengurangan UKT tersebut dengan membuat serangkaian video tentang pernyataan bahwa mereka tidak akan membayar UKT semester depan. 

Fuad Hidayatullah, Selaku Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, menanggapi bahwa pembatalan kebijakan pengurangan UKT tersebut sangat tidak memperhatikan kondisi mahasiswa di tengah pandemi saat ini. Hal itu direspon dengan membuat video penolakan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Kemenag tersebut.

“Kalau ditanya apa tanggapan saya, mungkin sama dengan perasaan mahasiswa PTKIN Indonesia yang saat ini harus gigit jari dengan keputusan kemenag. Pembatalan tersebut adalah bentuk inkonsistensi dari kementrian keagamaan kita dalam menjalankan komitmen. Karena kita tidak mendapatkan akses untuk menjalankan kegiatan akademik dengan maksimal dan kondusif, maka pemotongan UKT jelas adil menurut saya. Keputusan kemenag itu tidak bisa didiamkan sehingga kami dari fakultas ekonomi dan bisnis Islam melayangkan video sebagai bentuk protes dengan mempertegas  identitas diri. Belum lagi proses kuliah daring atau aktivitas akademik lainnya  tidak diberikan subsidi kuota. Sungguh tidak mempertimbangkan kondisi perekonomian mahasiswa, itu saja bayar SPP mahasiswa ada yang kewalahan penuhi bahkan rela meminjam kiri kanan”. Ungkapnya.

Ketua Umum Dewan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, Saidiman, menyampaikan sangat menyayangkan kebijakan pembatalan pengurangan UKT minimal sebesar 10%. Bahkan di tataran pengurus organisasi kemahasiswaan, kebijakan tersebut sempat didiskusikan lagi agar potongannya dinaikkan menjadi 70%.

“Sangat disayangkan, kemenag hari ini tidak mementingkan kondisi mahasiswa dan orang tua mahasiswa. Dimana kita ketahui bersama bahwa ditengah pandemi global covid-19 ini, kemudian banyak orang tua mahasiswa yang dirumahkan, yang di phk. Dan kami sendiri justru mengusulkan agar pengurangan UKT dinaikkan menjadi 70%. Hal ini dikarenakan, terkhusus untuk di kampus UIN Alauddin Makassar mahasiswa hanya kurang lebih 2-3 minggu bertatap muka, selebihnya kita hanya kuliah di rumah padahal pembayaran UKT tersebut diperuntukkan salah satunya adalah dengan menikmati fasilitas kampus. Ungkap, Saidiman.

Dengan dibuatnya video penolakan pembayaran UKT semester depan, ketua HMJ sejajaran berharap agar keputusan ini bisa dipertimbangkan kembali secara saksama dengan memperhatikan kondisi ekonomi Mahasiswa akibat  pandemi Covid-19. 

Video ini direkam bersama rasa kekecewaan Ormawa FEBI UIN Alauddin Makassar karena merasa diberi harapan palsu oleh kemenag. Yang awalnya menganggap kepekaan pemangku kebijakan itu masih ada, kini berubah menjadi anggapan bahwasanya kemenag tidak mendalami permasalahan dan kondisi sebelum menetapkan kebijakan.

Senin, 09 Maret 2020

HMJ-Ak UIN Alauddin Makassar Gelar Rapat Kerja

HMJ-Ak UIN Alauddin Makassar Gelar Rapat Kerja

Pembukaan Rapat Kerja Himpunan Mahasiswa
Jurusan Akuntansi UIN Alauddin Makassar, di Benteng Somba Opu Rumah Adat Kajang,
Sabtu - Minggu ( 7-8/3/2020 ).
Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar menggelar Rapat Kerja ( RAKER ) dengan mengusung tema Aktualisasi rencana kerja demi terwujudnya organisasi yang berintegritas, bersinergi dan berkemajuan, kegiatan ini sukses dilaksanakan di Rumah Adat Kajang, Benteng Somba Opu, pada Sabtu hingga Minggu, (7-8/3/2020). 

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, Memen Suwandi, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, beliau mengatakan pengurus HMJ-Ak harus memiliki sikap integritas dan memupuk sinergitas demi kemajuan jurusan kedepannya serta tidak melupakan tanggung jawabnnya dibangku perkuliahan. "Sebagai pengurus himpunan, kalian harus memiliki sikap yang berintegritas, sinergitas dan berkemajuan", ucapnya. 

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, Andri Pranoto, mengatakan bahwa HMJ-Ak adalah tempat belajar mahasiswa akuntansi dan berharap agar mereka memiliki komitmen dalam berlembaga. 

Penyerahan berkas program kerja oleh Koordinator Steering Azhari Amir
kepada Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak)
 UIN Alauddin Makassar Andri Pranoto, di Benteng Somba Opu Rumah Adat Kajang (7-8/3/2020).

"Saya berharap kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat akuntansi untuk berproses dan mampu menjadi organisasi kemahasiswaan yang berkemajuan. Saya juga berharap semoga HMJ-Ak bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya", ungkap Andri.

Kegiatan raker ini pun dihadiri oleh pengurus HMJ-Ak periode 2020, para demisioner pengurus dan tamu undangan. Rizal Karim selaku demisioner Ketua Umum HMJ-Ak periode 2013 juga menuturkan beberapa pesan untuk HMJ-Ak kedepannya. Beliau berharap kegiatan-kegiatan yang akan diadakan oleh HMJ-Ak  terpenuhi sesuai dengan harapan. "Semoga program kerja yang telah dibahas dirapat kerja bisa secara maksimal terlaksana dan memenuhi semua target yang ingin dicapai", tutup Rizal kepada pengurus.



Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak)
UIN Alauddin Makassar Periode 2020. 



Reporter
Muh.Hasrul

Editor
Andi Tenriawaru A.Kahrir

HMJ-AK UIN Alauddin Makassar Sukses Laksanakan Bakti Sosial 2026: Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat

  Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-AK) UIN Alauddin Makassar telah melaksanakan salah satu program kerja yaitu Bakti Sosial (BAKSOS...