MAHASISWA : Hak dan Labelisasi
![]() |
| Andri Pranoto. |
Semua orang saat ini mengalami masa yang sangat sulit,
terkhusus bagi mahasiswa sekarang. Belum saja berlalu pandemi wabah saat ini,
mahasiswa sudah banyak ditimpa masalah yang bertubi-tubi. Mulai dari pembatalan
pemotongan SPP yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), aktivitas kuliah yang
dirumahkan sehingga harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli kuota disaat
keadaan ekonomi yang tidak karuan, pemberian tugas yang sudah tidak lagi sesuai
dengan porsinya dan masih banyak masalah
yang tertuang dalam status Whatsapp yang saya baca.
Kita sama-sama mengetahui bahwa pada tanggal 6 april 2020 Kemenag RI mengeluarkan surat edaran tentang pengurangan SPP/UKT PTKIN akibat
pandemi Covid-19, namun pada tanggal 20 April Kemenag RI mengeluarkan
kembali surat edaran tentang pembatalan pengurangan SPP/UKT PTKIN. Setelah
terbitnya surat edaran tentang pemotongan SPP/UKT mahasiswa menunggu kepastian
tentang tindak lanjut dari surat edaran tersebut, namun pada akhirnya mahasiswa
hanya menuai kekecewaan, bagaimana tidak mahasiswa sudah lama menanti kepastian dan tiba-tiba surat edaran tentang pembatalan pemotongan SPP/UKT itu terbit disaat
mahasiswa masih menunggu tindak lanjut dari surat edaran yang pertama, serasa bertepuk
sebelah tangan kan? Mungkin saja Kemenag RI terinspirasi dari youtuber-youtuber
yang sering nge-PRANK dan mencoba untuk mengaplikasikannya terhadap mahasiswa
dan sialnya hal itu berhasil. Setelah apa yang tengah terjadi, respon mahasiswa seperti
apa? Ya jelas saja geram dong. Bagaimana tidak, mereka memberikan kami janji itu, namun mereka sendiri yang mengingkari janjinya. Sialan kami dikibuli!
Namun, tak semua mahasiswa geram melihat tindakan itu. Ada
yang biasa-biasa saja dan ada pula yang memilih pasrah saja. Wajar mahasiswa sekarang
dicetak untuk ditindas, nalar kritis mereka ditukar dengan jaminan nilai (A)
dan label anak yang berakhlak mulia, taat, patuh, tunduk, dan sesekali bisa
menjilat. Mahasiswa sekarang lebih memilih cari aman entah mengamankan nilai
atau mengamankan muka dari birokrasi. Diam melihat perjuangan yang ada dan
tidak melakukan apa-apa namun ikut turut
dalam euforia kemenangan. Dasar
mahasiswa kurang ajar.
Dunia pendidikan sekarang mungkin atau memang sudah sangat
mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, mahasiswa yang hanya sekedar bertanya saja dilabeli dengan sebutan mahasiswa kurang ajar sedangkan mahasiswa yang hanya
diam melihat penindasan dan ketimpangan serta perampasan hak dilabeli dengan
sebutan mahasiswa yang patuh, taat,
tunduk dan berakhlak mulia. Ataukah tenaga pengajar sekarang sedang bercanda? Mungkin saja. Yah seperti lawakan yang baru-baru ini dikeluarkan dari mulut
bapak Prof. Hamdan Juhannis selaku Rektor UIN Alauddin Makassar penulis buku Melawan
Takdir. Beliau berkata "Menuntut penurunan spp, menuntut kuota itu
membuktikan bahwa sebenarnya ketangguhan karakter itu belum tercapai".
Sedikit lucu namun lebih terlihat konyol. Jadi, mahasiswa yang menuntut
penurunan SPP dikarenakan penentuan kategori uktnya yang tidak sesuai bapak sebut
karakternya belum tangguh? Mahasiswa yang menuntut kuota karena harus
mengeluarkan dana pribadi padahal mereka telah membayar SPP dan tidak menikmati
fasilitas kampus bapak sebut karakternya belum tangguh? Mahasiswa bapak masih sadar bahwa hak mereka telah dirampas, makanya
mereka menuntut. Atau memang bapak yang tidak sadar telah merampas hak
mahasiswa bapak sendiri? Semoga bapak sadar dan cepat tersadarkan. Semoga saja!
Keadaan sekarang sudah sangat pelik, saatnya mahasiswa
merebut haknya kembali. Semua harus diperjuangkan, yah pastinya dengan
tindakan. Sekarang sudah bukan saatnya untuk cari aman, bukan hanya mampu mengoceh di status Whatsapp saja, semua butuh
tindakan karena sekarang hak kita telah dirampas. Seperti yang dikatakan oleh
salah satu mantan mahasiswa yang sekarang memilih menjadi pebisnis muda
"percumako marah-marah di status whatsapp, nda sampeji, dan muatan kritiknya
minim". Yah semua itu akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan
tindakan. Saat ini mahasiswa sedang melawan takdirnya, dan merebut kembali apa yang
menjadi haknya.
Salam dari mahasiswa yang dilabeli kurang ajar karena
bertanya.
Editor : Andi Tenriawaru A.Kahrir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar