AKUNTANSI DAN KRISIS INTEGRITAS
![]() |
| Hardiwansyah - Akuntansi 018 |
Lahirnya generasi unggul yang menjadi kebanggaan bangsa, tentunya tidak lepas dari peran pendidikan yang sangat penting. Melalui pendidikan, seorang anak mulai diisi dengan berbagai disiplin ilmu yang dapat menjadi pondasi bagi pola pikir dan karakter anak untuk menghadapi perjalanan hidupnya dimasa yang akan datang. Saya mengutip sebuah pernyataan dari khalifah Ali bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Kalimat yang singkat ini memberi indikasi bahwa kita harus membekali generasi pelanjut bukan hanya untuk saat ini, tapi dipersiapkan untuk menghadapi perjalanan hidup yang sulit dimasa yang akan datang, agar mereka mampu bersaing dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Untuk menjadi Generasi yang Andal dan
Berprestasi, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Anak yang lahir tidak
bisa instan menjadi pintar tanpa melalui proses didikan. Seperti yang saya
alami dalam menempuh pendidikan. Di bangku sekolah dasar mulai diperkenalkan
bagaimana bersikap sopan dan santun, berlanjut ke jenjang Sekolah Menengah
Pertama, dibekali dasar ilmu pengetahuan, di Sekolah menengah Atas diajarkkan
untuk berani berpendapat dan di perguruan tinggi diharapkan menjadi mahasiswa
yang mampu berfikir kritis menilai benar atau salahnya suatu hal melalui
penelitian. Seperti inilah gambaran singkat jenjang pendidikan kita.
Akan tetapi, dengan melihat kondisi saat
ini, perkembangan teknologi yang semakin modern, jalur informasi yang semakin cepat,
revolusi industri 4.0 yang menuntut dunia kerja beralih menggunakan tenaga
mesin dari pada tenaga manusia akan membuat kita gagal bersaing jika hanya
mengandalkan pembelajaran di kelas yang luasnya hanya 10x10 meter. Nah, apa
yang bisa menunjang kemampuan kita untuk menjadi generasi yang unggul?. Sering
kali saya mendengar dosen mengatakan pembelajaran di kelas hanya menunjang 20
persen, sedangkan 80 persen pelajaran diperoleh diluar kelas. Itu berarti kita
harus menambah wawasan kita diluar daripada jam pelajaran di kelas.
Ada banyak kegiatan yang saya pikir sangat
penting untuk membentuk kepribadian yang unggul antara lain meningkatkan budaya
literasi, aktif di berbagai kepanitiaan, organisasi, mengikuti pelatihan, aktif
dalam forum diskusi atau seminar dan berpartisipasi dalam perlombaan.
Pengalaman dari kegiatan seperti inilah yang dapat menunjang skill dan
kemampuan kita menjadi generasi pelanjut yang kuat.
Terfokus pada bidang keilmuan yang saya
tekuni yakni Jurusan Akuntansi, saya melihat prospek kerja seorang akuntan yang
cukup luas dan dibutuhkan disetiap instansi dan perusahaan, hal ini menjadi
faktor pendorong banyaknya peminat untuk program studi akuntansi di berbagai
jalur seleksi masuk perguruan tinggi, dan menjadi cerminan akan terciptanya
alumni-alumni Akuntan yang sangat banyak. Dengan berbekal keterampilan dan
keilmuan yang dimiliki, mereka bersaing untuk masuk di berbagai instansi atau
perusahaan yang membutuhkan seorang akuntan. Namun, yang menjadi pokok
persoalan, apakah Keterampilan dan penguasaan terhadap bidang akuntansi ini
dilandasi oleh pendidikan karakter dan moral, ataukah hanya sebatas pada
penguasaan akademik saja?.
Saya berfikir seperti ini karena melihat
begitu banyak kasus-kasus kecurangan yang dilakukan seorang akuntan dalam
menjalankan tugas-tugasnya. Seperti terjadinya Fraud, manipulasi laporan
keuangan dan pemberian opini oleh akuntan publik atau auditor yang tidak
transparan. Kecurangan ini, pernah terjadi pada perusahaan multipembiayaan PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (PT SNP), bahkan terjadi di perusahaan
multinasional British Telkom perusahaan besar milik inggris.
Kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan
tugas sebagai seorang akuntan disebabkan rendahnya pendidikan moral. Mereka
adalah orang-orang yang mahir dalam akademik tapi krisis dalam hal moral dan
akhlak. Inilah yang menerpa pendidikan kita di Indonesia, begitu banyak
generasi muda yang tidak dapat bersaing karena lemah dalam akademik, ada juga
yang ahli dalam akademik tetapi lemah dalam hal etika, sehingga yang terjadi
adalah berbagai bentuk kecurangan terjadi di mana-mana.
Saya kembali mengutip sebuah kalimat yang
mengatakan, “Letak akhlak diatas dari pada ilmu”. Jika kita memahami isi dari
kalimat ini, kita akan menemukan sebuah makna bahwa akhlak akan menjadi alat
kontrol bagi ilmu yang kita miliki agar dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya. Berkaitan dengan hal ini, dalam akuntansi dikenal dan
diberlakukan prinsip dan etika profesi akuntan. Dengan tujuan menciptakan
akuntan yang handal, berkarakter, dan sesuai dengan standar akuntansi nasional
dan internasional serta diharapkan mampu untuk mencegah terjadinya berbagai
bentuk kecurangan.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI),
salah satu prinsip dasar etika profesi akuntan Yaitu prinsip integritas. Apa
yang dimaksud dengan prinsip integritas?. Integritas adalah suatu konsep
yang berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai,
metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, dan dalam berbagai hal yang dihasilkan.
Orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang unggul, jujur dan
memiliki karakter kuat. Sikap yang teguh mempertahankan prinsip dan menjadi
dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.
Seorang akuntan profesional harus memiliki
integritas yang tinggi. Sebab hal inilah yang akan menjadi lirikan publik agar
menyimpan kepercayaan kepada pemberi jasa akuntansi. Berbagai kecurangan dan
pelanggaran dalam bidang kerja akuntan menjadikan publik mengalami degradasi
kepercayaan, maka solusi yang tepat menghadapi masalah seperti ini adalah
meningkatkan kinerja melalui prinsip integritas, yaitu, pemahaman terhadap
karakter dan nilai-nilai moral. Selain itu, penguasaan akademik terhadap
disiplin keilmuannya juga harus sesuai standar akuntansi yang berlaku.
Keterampilan lain atau soft skill juga akan sangat mendukung daya saing dalam
dunia kerja, misal jiwa kepemimpinan yang tinggi, keberanian berbicara di depan
umum, komunikasi yang lancar dan pemberian pelayanan yang baik, akan sangat
menentukan kelangsungan profesi kita ke depan.
Saya sendiri memilih jurusan akuntansi di
perkuliahan karena akuntansi tidak hanya mengajarkan Tentang uang, bagaimana
kita menghitung dan mengelolah keuangan dengan baik. Akan tetapi, akuntansi adalah
ilmu yang mengajarkan tentang ketelitian, tanggung jawab dan kejujuran. Maka
dari itu, menjadi seorang akuntan adalah hal yang sangat baik, apabila
dilandasi dengan akhlak yang baik pula. Meskipun berorientasi pada kepentingan
dunia namun jangan sampai melupakan orientasi terhadap kehidupan akhirat.
Penulis : Hardiwansyah
Editor : A.Afiyah Nafisah
Barokah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar