Abang Covid : Ambisinya Menguasai Dunia
Sahrul Ramadan - Akuntansi 017
Entah,
saya harus memulai dari mana tulisan ini. Covid-19? Hmm..., siapa dia? orang mana
dia? itulah beberapa gambaran pertanyaan umum para orang tua di kampung.
Abang
covid-19 ini terlahir di salah
satu daerah yang bernama Wuhan.
Awal lahirnya abang
covid diakhir tahun 2019 disambut dengan suka cita oleh masyarakat pada saat
itu, bahkan menjadi sebuah trending topik seluruh dunia, tak terkecuali negara
yang dijuluki negara +62.
World Health Organization
(WHO), sebagai organisasi kesehatan dunia pun bersepakat memberikan julukan
abang covid sebagai "COVID-19" dan menjadi sebuah wabah hampir
separuh bumi. Wahhh sungguh beruntung, mungkin bentar lagi mau dibuatkan sebuah
monumen nih.
Pada
awal bulan Maret
covid-19 sudah menyentuh negara Indonesia
dan menyebar begitu sangat pesat. Pemerintah dengan sigap memberikan himbauan
agar seluruh masyarakat Indonesia
jangan panik, dan segala aktivitas di luar rumah itu ditiadakan. Dengan adanya
himbauan ini, secara tidak langsung banyak orang mengumandangkan dan mengucapkan
mantra "di rumah
aja", yang tak lain hanya untuk memutuskan tali rantai penyeberan corona
virus ini.
Kaum
rebahan yang dicap sebagai label pemalas, pengangguran atau sampah masyarakat,
kini secara tidak langsung hadir sebagai pahlawan di tengah pendemi ini. Ibarat
sebuah strategi yang sering dimainkan Jose Mourinho, para tenaga medis adalah
para striker yang siap meyerang dan membantu para korban yang teridentifikasi
positif corona, dan kaum rebahan sebagai gelandang bertahan yang siap membantu
memutuskan serangan virus ini. Saya salah satu dari kaum tersebut, dan mewakili
kaum rebahan lainnya, berbangga diri karena telah berkontribusi memutuskan
rantai pandemi ini. "tidurmu ataupun magermu adalah salah satu bentuk
perlawanan".
Ajakan
di rumah
aja, social distancing atau jaga jarak itu menjadi salah satu langkah yang
diambil oleh pemerintah. Terbukti dengan adanya pemberlakuan PSBB (pembatasan
sosial berskala
besar). Mulanya PSBB ini hanya diterapkan di Ibu kota
dan akhirnya diterapkan juga di
beberapa kota yang ada di Indonesia.
Akibatnya kegiatan sosial dan ekonomi di beberapa kota menjadi lumpuh. Mesin-mesin
pabrik yang dulunya beroperasi kini berhenti, tempat-tempat peribadatan
ditutup, proses belajar-mengajar
terganggu, seraya mantra ajakan "di rumah aja" adalah
sebuah magnet besar yang bisa menarik semua individu, kalangan, ras dan
golongan untuk tetap stay di rumah aja.
Berhentinya
mesin-mesin pabrik untuk
beroperasi berakibat pada kelas buruh yang terkena pemutusan hak kerja (PHK). Hmm..., apakah mantra yang
sering diucapkan, dilantunkan atau digemahkan
oleh banyak orang untuk tetap di rumah
masih menjadi solusi bagi mereka yang baru kena PHK? Ataukah ajakan tetap di rumah hanya berlaku
bagi mereka yang memiliki tingkat perekonomian menengah saja? Sebenarnya masih banyak lagi korban dari pandemi ini
seperti pekerja serabutan, ojol, buruh panggul pelabuhan, yang dimana mereka
semua adalah para pekerja informal, yang notabenenya mereka dituntut, dan
dipaksa oleh keadaan, yang bilamana ketika ia tidak bekerja siapa menjamin
keberlangsungan hidup mereka dan keluarganya. Hahaha... bukannya mati karena pandemi, malah mati
menahan kelaparan.
Hari
ini para orang tua harus berpikir
secara ekstra dan memutar otaknya 180 derajat hanya untuk memikirkan agar
supaya nasi tetap berada diatas tempatnya. Saya
teringat beberapa hari yang lalu
lewat disebuah jalan dan melihat beberapa orang berkerumun di bahu jalan. Saya pikir bakal ada
sebuah konser, dan tak taunya mereka sedang antri dan menunggu disebutkan
namanya satu persatu, serta membawa beberapa barang digenggaman tangan.
Sebenarnya saya tidak mau menyebutkan nama tempat tersebut, tapi sebut saja
PEGADAIAN (instansi naungan BUMN).
Pegadaian
dengan jargonnya " Mengatasi Masalah
Tanpa Masalah" menjadi
sebuah langkah kongkrit yang diambil oleh para orang tua, yang sebagian besar
adalah korban dari PHK
di tempat
kerjanya. Saya
sebagai seorang mahasiswa yang memiliki background ekonomi yang dibesarkan oleh
keluarga petani, sebuah negara yang mengutamakan para investor, dan lingkungan
yang cukup memadai untuk
merintis sebuah usaha. Awalnya saya ragu dengan usaha yang akan nantinya saya
rintis ini, yang tak lain membuat sebuah usaha peternakan anak-anak dari abang
covid, yaitu corona. Tapi melihat dengan keberhasilan yang dicapai abang covid,
dengan menyandang sebuah gelar COVID-19 dari WHO, menguasai separuh dunia, dan dengan
mengandalkan modal yang murah "Ketakutan dan Kelaparan".
Pengurangan
atau pembatasan aktivitas
sosial boleh saja, selama masih memiliki maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi
khalayak banyak, serta tidak mengesampingkan dan memutuskan rantai kemanusiaan.
Di bulan yang suci dan nan berkah ini, dijadikan sebagai wadah ataupun sebuah momentum oleh beberapa
orang yang memiliki
sedikit harta yang lebih sebagai ajang kemanusiaan di tengah pandemi ini. Hmm..., semoga saja kebaikan Anda saat ini tak
seperti para wakil rakyat yang hanya datang saat pesta demokrasi. Hehe, jangan tersinggung ya
pak, kan fakta.
Penulis : Sahrul Ramadan
Editor : A. Nadiyah
Khaerani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar