Selasa, 27 Oktober 2020

HMJ AKUNTANSI UIN ALAUDDIN MAKASSAR ADAKAN WEBINAR NASIONAL


HMJ AKUNTANSI UIN ALAUDDIN MAKASSAR ADAKAN WEBINAR NASIONAL

Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) UIN Alauddin Makassar sukses menggelar Webinar Nasional melalui Aplikasi Via Zoom, Senin (26/10/2020).

Kegiatan webinar ini merupakan rangkaian kegiatan dari Accounting Fair 2020 HMJ Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar.Tercatat sekitar ratusan peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka adalah mahasiswa jurusan akuntansi dari berbagai kampus.

Dalam webinar tersebut mengangkat tema “Profesi Akuntan Selama Pandemi Covid-19”, menghadirkan tiga narasumber yang profesional dalam bidangnya. Narasumber tersebut yakni Andi M.N. Afdhal, SE., MSA., Ak., SAS., CA, Ardaniah Abbas dan Muh. Eko Patria Jaya.

Dosen Akuntansi UIN Alauddin Makassar, Muhammad Safril Sardi Juardi menyatakan  harapannya agar pengurus HMJ Akuntansi 2020 mampu mengembangkan potensinya di bidang akuntansi. Sebab, tidak bisa dipungkiri prospek kerja di bidang akuntansi sangatlah luas.

“Kita telah menghadirkan para praktisi sebagai pembicara. Mereka juga merupakan demisioner pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan. Saya berharap, semoga Fungsionaris HMJ Akuntansi 2020 bisa lebih hebat dari mereka”. Ujarnya.

Ketua HMJ Akuntansi UIN Alauddin Makassar Andri Pranoto menyampaikan bahwa webinar mengenai profesi akuntan selama masa pandemi Covid-19 bisa menjadi pemantik untuk memompa semangat peserta dalam menerapkan profesionalitas kerja sebagai akuntan di tengah berbagai keterbatasan gerak.

“Seperti yang kita ketahui, para akuntan seperti auditor dituntut untuk tetap menjaga kualitas laporan keuangan sekalipun posisinya kita sedang menghadapi wabah. Independensi dan profesionalitas kerja mereka bisa menjadi contoh bagi kita sebagai mahasiswa untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita”. Tutur, Andri.

Faisal selaku ketua panitia Accounting Fair 2020 menyebutkan bahwa webinar ini menjadi bahan referensi mahasiswa akuntansi dalam melihat bagaimana proses kerja akuntan selama pandemi.

“Mekanisme kerja seorang akuntan sangat dipengaruhi oleh adanya wabah covid-19. Oleh karena itu, besar harapan kami selaku panitia dengan dihadirkannya ketiga praktisi akuntan tersebut sebagai narasumber bisa menambah wawasan mahasiswa mengenai profesi akuntan selama pandemi”. Ungkap, Faisal.

Reporter : Muh. Hasrul

Senin, 05 Oktober 2020

PUISI : KOTA BERTUAN BERANAK MALANG

 KOTA BERTUAN BERANAK MALANG


Kota Bertuan Beranak Malang

Pasung di tombak gersangnya tanah bertuan

Bermandikan daki, beratap keranda

Kulitnya matang di bakar cakrawala

 

Kota bertuan beranak malang

Kisah pilu dunia malang

Lukisan abstrak buramnya negeri

Potret nyata lemahnya nurani

Yang memamah habis harta negeri

 

Anak Malang....

Merangkai mimpi di tengah hari

Walau dalam wadah derita

Bernyanyi walau syair hidupnya hampa

Tertawa walau tak tahu apa- apa

 

Mereka hijrah tuk cari ketenangan

Merumput ditanah khalayak

Rela lepas rindu sanak saudara

Demi berharap makan sesuap nasi...

Meski berada ditanah para PENJILAT_PENJILAT berdasi....

 

Anak Malang.....

Korban ganasnya Zaman

Merintih.....

Menangis....

Meminta....

Meronta....

Walau tangis mereka adalah tangis darah

Menyimpan belati di dalam hati

Tetap jua tak  ada arti

Mereka bagai sampah di negeriku ini....

 

Kota bertuan beranak malang...

Hidup terampas kaum KAPITALIS

Sebelum masa menginjak istana

Lambaikan tangan tebar senyuman

Mulut mereka mencibir bak buah durian

Bagai belati meminta TUMBAL SIMPATI

 

Hei....Janjimu setinggi langit

Tapi sayang,,,Iman-mu ada di tumit

 

Anak malang......

Cinta mereka lahir dari dawai-dawai kepedihan

Timbul dari rahim penderitaan...

Yang kau mamah...

Yang kau kunyah...

Yang kau renggut dari mereka....

Lalu yang kau sisakan.....?

 

Makanan mereka adalah udara dari bau mulutmu...

Minuman mereka adalah air liurmu....

 

Senja renta dunia pun petang

Jikalau tradisi pasung masih dibenam

Rakyat ingusan jadi santapan

Akhir dunia yang tak lagi dermawan

 

Oleh : PenaGersang

Kamis, 17 September 2020

HMJ-Ak UIN Alauddin Gelar Rapat Dengar Pendapat

 HMJ-Ak UIN Alauddin Gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP)

Pembukaan Rapat Dengar Pendapat

Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINAM telah sukses menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP). Bertepat di Balla Ratea Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa pada Selasa-Rabu, 15-16 September 2020.

Kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) ini, adalah wadah yang disediakan oleh pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-AK) terhadap masyarakat Akuntansi UIN Alauddin Makassar untuk menyampaikan pendapat-pendapatnya terhadap evaluasi program kerja ataupun kinerja kepengurusan.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Andri Wirharjo, selaku wakil ketua umum Senat Mahasiswa Fakuktas Ekonomi dan Bisnis Islam (SEMA-F), yang menyampaikan "Secara konstitutional. RDP itu adalah sebuah wadah untuk khususnya masyarakat, yaitu disini masyarakat himpunan mahasiswa jurusan akuntansi itu sendiri, dan terlebih dari pada itu, adapun RDP muatannya berupa evaluasi kinerja yang dimiliki".

"Organisasi adalah kunci kesuksesan dan pintu menuju kualitas diri anda sendiri," tambahnya setelah membuka secara resmi kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP)

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-Ak) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, Andri Pranoto, mengatakan bahwa kegiatan RDP ini hadir, guna sama-sama merembukkan kinerja program kerja kedepannya dengan harapan menghasilkan konsep-konsep yang mampu menunjang kinerja HMJ-AK kedepannya ditengah pandemi Covid-19.

"Saya berharap kinerja pengurus atau lembaga HMJ-Ak lebih progresif setelah adanya konsep-konsep baru yang hadir setelah RDP ini, sehingga teman-teman pengurus dapat kembali mengoptimalkan kinerjanya diakhir sisa kepengurusannya," ungkap Andri.

Kegiatan ini pun dihadiri oleh pengurus HMJ-Ak periode 2020, para demisioner pengurus dan tamu undangan. Saidiman selaku demisioner Sekretaris Umum HMJ-Ak 2019 menuturkan beberapa pesan untuk pengurus HMJ-Ak periode 2020. Beliau berharap pengurus mampu lebih baik lagi kedepannya. "Semoga kedepannya pengurus bisa lebih aspiratif lagi, bisa mengakomodir dan mewadahi khususnya teman-teman mahasiswa akuntansi," tuturnya.

Reporter : A.Afiyah Nafisah Barokah

Editor : Andi Tenriawaru A.Kahrir.


Jumat, 14 Agustus 2020

Popularitas dan Bertuhan Materi

POPULARITAS DAN BERTUHAN MATERI


Tak Bisa ditepis lagi, perkembangan teknologi informasi telah berkembang pesat membawa perubahan yang cepat di seluruh lini kehidupan. Mempengaruhi bahkan mengubah wajah kehidupan di semua sektor, Baik Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya serta sektor Lainnya yang cukup banyak jumlahnya.

Terlebih lagi tentang gaya hidup, popularitas, hingga moral. Semua, sudah mengalami transformasi teknologi, namun cukup disayangkan bukannya mengarah kepada kemajuan justru membawa kepada kemerosotan moral yang sangat memprihatinkan.

Saya akan membawa kalian menganalisis, melatih otak dan akal untuk sedikit bermain kata-kata.

Di zaman media sosial seperti ini, masihkah harga diri dinilai begitu penting???

"Popularitas dan Bertuhan Materi"

Dua kata yang menjadi dasar pemicu keterpurukan akhlak.

Coba kita berpikir tentang tingkah mahluk yang menamakan dirinya "manusia" di era sekarang ini.

Ada sebagian orang rela "bunuh diri" demi mencari popularitas di media maya. Saya menggunakan kata bunuh diri disini untuk melukiskan perbuatan buruk manusia yang menjerat dirinya dalam labirin masalah.

Pertama, ada orang yang rela menjual harga diri, menyebar ujaran kebencian dan berita bohong, bertindak asusila bahkan mempertontonkan pelecehan seksual, demi Apa???. Demi mendapat respon "manusia dangkal berpikir" untuk dijadikan fasilitas popularitas terutama di media sosial. Tujuannya Apa???  Tujuannya untuk mengalirkan rezeki materialis berlabel "Uang".

Kedua, ada orang yang mencoba menggunakan latar belakang "Agama, Nabi, dan Tuhan" untuk menarik simpati orang-orang yang malas berpikir. Memanfaatkan masyarakat Awam sebagai target untuk bertindak bodoh. Mereka senang melihat perdebatan, permusuhan, bahkan pembunuhan sesama umat "Toleransi", hanya dengan sepenggal kata ataupun Perbuatan yang sifatnya menista.

Tujuannya Apa...???

Lagi-lagi untuk popularitas dan materi.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa yang menamakan dirinya "kritis"? Apakah kita tinggal diam saja? Ataukah ikut mengambil bagian dengan manjadi fasilitas popularitas?, ataukah mencari solusi menyadarkan orang-orang yang telah terjangkit penyakit "cinta dunia " yang sangat berbahaya ini???

Itu semua tergantung bagaimana kita memilih untuk melakukan apa dan menjadi siapa. Namun, saya sendiri menanamkan prisnsip seperti ini:

Orang yang mencari popularitas dan materi di media sosial dengan cara yang menurut kesepakatan adalah " cara tidak baik" seperti perbuatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bisa kita cegah, Cukup dengan memutus mata rantainya. Mereka akan merasa berjaya ketika memiliki banyak respon, semakin orang tertarik dengan perilaku buruknya semakin Dia merasa telah menuai kemenangan. Semakin banyak orang yang membagikan postingan "buruknya" maka semakin populer(viral)lah Dia.

Maka dari itu nalar kritis kita mengolah informasi di media sosial menjadi begitu penting, ingatlah Allah sudah berjanji tak akan ada orang yang mencoba melawan dan melecehkan agama Allah melainkan dia akan menuju jurang kebinasaan.

Harga dirimu di mata Allah jauh lebih penting dari popularitasmu di mata Manusia.

Senin, 10 Agustus 2020

Puisi : Bertani rindu diladang semu

 

BERTANI RINDU DI LADANG SEMU


saat awan sungkan menampakkan rembulan,

ada tangis bersembunyi di pekatnya malam

riuh tahlil kian menyiratkan kesunyian,

Memaksa kisah segera dikhatamkan

 

Jari bergetar tubuh gemetar

hening berkoar angin menampar

pelayat bergilir memadati selasar

menepuki Pundak memaksaku tegar

 

Tahan sebentar.. 

Izinkan waktu memulihkan tubuh yang gemetar

Menyisih dari ramai, menyusuri jenggala memori

Menatap kejamnya hujan meninggalkan awan

Menjatuhkan rintik membasahi rerumputan

 

Biarlah..

Biarlah azalea liar merambat

Menebar sabar mengenalkan 

bahasa ikhlas yang amat hangat

Hembusan lembut mengusik khayalku, 

mengusir bayangmu

Oh kejamnya rindu di ladang semu

 

Jika Bertani rindu yang berharap temu, 

ini bukan ladangmu!

Kawanku telah nyenyak 

dalam peniduran akhir yang sudah tentu

Pijakan tak lagi kokoh dengan raga lesu 

dan tatap ambigu

Senyum tak lagi kuasa menirai 

perihnya sayatan sembilu

Tak siap dengan belantara rindu 

yang enggan beranjak dari kalbu

 

Aku tahu ….

tak pantas pilu mengiring ragamu yang riang

Bait rindu selalu kuselipkan

Di kafilah doa yang terus kulangitkan

Bentala kan menyambutmu 

diperutnya yang lapang

Selamat jalan kawan.. dariku yang ditinggalkan


Karya : Indah, Sulawesi Barat

Sabtu, 08 Agustus 2020

PATRIARKI DAN KONDISI KRISIS PEREMPUAN

 

PATRIARKI DAN KONDISI KRISIS PEREMPUAN

Yasmirati - Akuntansi 019

"Ini harus dihentikan !!

Pemerkosaan

Pelecehan

Kekerasan

Pembunuhan

Korbannya adalah Perempuan

Ini bukan salahku

Bukan Salah pakaianku

Ini Salah otakmu

mulut mu & patriarki?

Kutipan di atas menggambarkan luapan emosi perlawanan terhadap berbagai kekerasan terhadap perempuan. Seperti yang kita ketahui, dalam berbagai fenomena permasalahan sosial di Indonesia, perempuan selalu mendapat jatah perlakuan berlebihan dibandingkan dengan laki-laki. Ya, inilah bentuk representasi ideologi yang bernama patriarki.

Alfian Rokhmansyah (2013) dalam bukunya berjudul Pengantar Gender dan Femisime, menyatakan “patriarki berasal dari kata patriarkat, yang berarti struktur yang menempatkan posisi dan peranan laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dan segala-galanya.” Patriarki secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem dimana otoritas kekuasaan dan kewenangan dalam sebuah tatanan sosial didominasi oleh laki-laki sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh.

Jika kita menelisik kehidupan sosial perempuan di Indonesia, budaya patriarki ini  begitu melekat dalam budaya kehidupan sosial masyarakat. Hal ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan seperti, ekonomi, politik, hukum bahkan pendidikan sekalipun. Akibatnya perempuan masih sering mengalami perlakuan yang tidak senonoh seperti yang sering kita temukan yaitu pemerkosaan, pelecehan, kekerasan dan pembunuhan terhadap perempuan. Hal itu juga tak lepas bagaimana pendidikan sejak dini terhadap perempuan, pada benak mereka telah ditanamkan dogma bahwa urusan dan kegiatan perempuan tak boleh keluar dari ranah domestik.

Kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dipisahkan dengan budaya patriarki yang masih ada di masyarakat. Budaya patriarki yang memandang perempuan sebagai objek semata juga dapat mendorong lai-laki melakukan kekerasan, menganggap perempuan sebagai kaum lemah dan tidak berdaya. Hal ini Menjadikan budaya partriarki yang susah untuk dihilangkan.

Sebut saja Catcalling misalnya, tindakan yang tidak jarang ditemui dilakukan oleh laki-laki dengan menggoda perempuan atau memanggil dengan tendensi seksual, biasanya berupa siulan ataupun komentar. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan pada diri perempuan.

Dampaknya korban takut untuk berjalan di keramaian, menjadi tidak percaya diri (parno) saat melihat sekumpulan laki-laki atau bahkan sampai berbalik arah untuk menghindarinya. Perasaan waswas dengan tindakan diskriminasi yang kemungkinan terjadi jika keluar rumah seorang diri. Belum lagi perempuan yang keluar malam sendirian dianggap sebgai perempuan yang tidak baik-baik. Padahal penelitian menunjukkan kekerasan terhadap perempuan lebih banyak terjadi disiang hari. Dari disinilah muncul rasa titik lemah perempuan dikarena subordinasi perempuan yang berlebihan di tengah masyarakat.

Ada ketimpangan relasi sosial antara perempuan dan laki laki, dimana laki laki merasa memiliki kuasa dan superior berlebihan atas tubuh dan tindakan perempuan. Perempuan selalu menjadi korban monster patriarki.

Selain itu perempuan dibatasi dengan lingkup yang sederhana, peran perempuan hanya boleh berada di ranah bidang domestik. Perempuan sebagai seorang istri menjadi korban dari laiki-laki dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak setara pun dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Perempuan tidak lebih sebagai parasit dalam kehidupan rumah tangga. Untuk apa perempuan dididik? Disekolahkan tinggi tinggi oleh orang tuanya jikalau selepas menikah dia hanya berpacu pada lingkup domestik saja. Padahal di bidang pendidikan perempuan mengalami peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang setara dengan laki laki.

Jika merujuk pada sejarah, memang peran perempuan sejak dahulu lebih dominan pada pekerjaan domestik, sedangkan laki laki yang keluar rumah mencari pundi pundi uang. Tetapi itu semua akan berbeda jika kita kembali mengingat sejarah R.A Kartini sang pahlawan perempuan yang berjuang untuk emansipasi wanita.

RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara perempuan dan laki laki di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara laki laki dan perempuan pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan.

Sekarang? Istri yang tidak menjalankan perintah suami mendapatkan perlakuan yang tak senonoh seperti KDRT dan kekerasan seksual. Itu terjadi akibat pengaruh budaya patriarki yang cenderung memiliki keleluasan untuk melakukan apapun terhadap perempuan. Hal ini juga yang menyebabkan tingginya angka pelecehan seksual di Indonesia.

Tercatat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdiri dari 421.752 kasus bersumber dari data kasus/perkara yang ditangani Pengadilan Agama, 14.719 kasus yang ditangani lembaga mitra Pengada Layanan yang tersebar di sepertiga provinsi di Indonesia dan 1.419 kasus dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR). Dari 1.419 pengaduan tersebut, 1.277 merupakan kasus berbasis gender dan tidak berbasis gender 142 kasus.

Tanpa disadar data di atas  menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah pikiran yang patriarkis. Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa perempuan yang selalu menjadi korban?

Pembagian peran gender ini dikatakan memang dibentuk dengan tujuan melindungi perempuan, agar perempuan tidak susah payah lagi mencari nafkah dan fokus melayani suaminya saja. Anggapan bahwa dengan keluar dari wilayah domestik kemudian beralih ke ruang publik malah dianggap sebgai bentuk eksploitasi terhadap perempuan.

Itulah mengapa perempuan selalu dianggap lemah! Padahal sudah banyak bentuk perlawanan yang telah dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan peluang kerja.

Inilah mengapa para feminisme mendukung keras agar DPR RI segera mengesahkan RUU penghapusan kekerasan sexual (PKS). Sebab nyatanya merekalah yang menjadi korban utama. Perempuan harus turun tangan untuk melawan patriarki, perempuan harus memberikan suaranya, dan aksinya

Sabtu, 13 Juni 2020

Ormawa Febi UIN Alauddin Makassar Adakan Panggung Bebas Ekspresi.


Ormawa Febi UIN Alauddin Makassar Adakan Panggung Bebas Ekspresi.

ORMAWA FEBI UIN Alauddin Makassar Adakan Panggung Bebas Ekspresi.


Organisasi Kemahasiswa (Ormawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam menggelar panggung bebas ekspresi di depan kampus 2 UIN Alauddin Makassar. Jumat,  (12/06/20).

Panggung bebas ekspresi ini merupakan bagian dari kegiatan untuk menggalang solidaritas mahasiswa dalam memperjuangkan haknya selama pendemi Covid-19, misalnya tuntutan untuk memberikan pemotongan atau relaksasi pembayaran UKT semester depan. Mengingat sampai hari ini, belum ada kebijakan yang dikeluarkan dari birokrasi kampus dalam hal pembayaran UKT semester depan.

Hal ini tentunya juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan berbagai keresahan, aspirasi dan tuntutan mereka. Beberapa kegiatan yang ditampilkan oleh mahasiswa di acara panggung bebas ekspresi ini seperti puisi, menyanyi dan pemutaran film dokumenter.

Ketua HMJ Akuntansi, Andri Pranoto, menyampaikan harapannya agar mahasiswa tetap menjaga semangat perjuangan dan kepekaannya dalam melihat persoalan-persoalan yang terjadi di kampus UINAM.

"Di tengah kondisi yang serba terbatas, mahasiswa harus tetap peka dan tidak apatis. Seperti yang kita ketahui belum ada kebijakan pimpinan kampus UINAM untuk mengurangi beban orang tua mahasiswa dalam hal pembayaran UKT semester depan". Harapnya.

Lebih lanjut, Andri menyerukan untuk tetap bersolidaritas mengawal tuntutan dan keresahan mahasiswa.

"Ini adalah keresahan kita bersama, oleh karena itu mari rapatkan barisan comrades!". Tutup, Andri.

HMJ-AK UIN Alauddin Makassar Sukses Laksanakan Bakti Sosial 2026: Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat

  Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-AK) UIN Alauddin Makassar telah melaksanakan salah satu program kerja yaitu Bakti Sosial (BAKSOS...