Oleh :
MUTIARA RAMADANI
Tragedi
tenggelamnya seorang siswa di kawasan wisata Apparalang, Kabupaten Bulukumba,
beberapa waktu lalu menyisakan duka yang mendalam. Peristiwa tersebut tidak
hanya mengundang perhatian publik karena hilangnya nyawa seorang pelajar,
tetapi juga memunculkan refleksi yang lebih luas mengenai kepedulian sosial dan
empati di tengah masyarakat. Kita lihat secara Bersama bahwa mayoritas orang
yang berada dilokasi hanya sebatas mangamati, dan saya tidak mampu memakai kata
kata apa yang cocok untuk orang yang masih sempat mengambil footage memakai
drone. Melihat situasi ini tentunya muncul pertanyaan, apakah kita masih
memiliki kepekaan terhadap sesama ketika mereka berada dalam situasi darurat?,
permasalahannys adalah apakah dalam sistem lingkungan kita sudah meninggalkan
kata sosial dan empati atau kita sederhadanakan saja dengan kata “tolong
menolong”.
Sesuai
dengan apa yang diamanahkan oleh negara bahkan agama sekalipun kita di arahkan
untuk saling membantu sesama,untuk menerapkan dan mengajarkan hal tersebut yang
paling cocok melalui Pendidikan. Peran ruang pendidikan dan pembentukan
karakter, kampus tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul secara
akademik, tetapi juga individu yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
The Theory of Moral Sentiments yang
digagas oleh Smith
menegaskan bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh kepentingan pribadi,
tetapi juga oleh kemampuan moral seperti empati dan simpati terhadap orang
lain. pembentukan karakter tidak dapat dipahami sebagai proses satu arah dari
institusi kepada mahasiswa, melainkan sebagai hasil dialektika antara
pengalaman, refleksi, dan keterlibatan aktif dalam realitas sosial. Oleh karena
itu, jika kampus ingin benar-benar melahirkan individu yang peduli, ia harus
berani melampaui sekadar retorika normatif menuju transformasi struktural yang
mengintegrasikan pengetahuan, nilai, dan praksis sosial secara nyata. Tan malaka pun menegaskan pendidikan harus melahirkan manusia yang berpikir
logis, mandiri, dan mampu membaca realitas sosial secara kritis, bukan sekadar
menghafal pengetahuan. Dalam gagasannya, pendidikan yang baik adalah pendidikan
yang membebaskan cara berpikir dari dogma dan mendorong keberanian untuk
mempertanyakan ketidakadilan. Perspektif ini relevan untuk mengkritik kampus
hari ini ketika pendidikan hanya berorientasi pada prestasi akademik, ia
berisiko melahirkan lulusan yang cerdas tetapi tidak peka terhadap persoalan
sosial. Tan Malaka justru mengingatkan bahwa kecerdasan sejati adalah ketika
pengetahuan digunakan untuk memahami dan memperbaiki kondisi masyarakat, bukan
sekadar untuk kepentingan pribadi.
Kampus
seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi lulusan yang unggul
secara akademik, tetapi juga sebagai arena pembentukan karakter yang
menumbuhkan kepedulian sosial, namun
orientasi pendidikan tinggi kerap terjebak pada logika pasar yang menitik beratkan pada capaian kognitif dan
kesiapan kerja semata. Akibatnya, nilai-nilai sosial sering direduksi menjadi
formalitas kurikulum tanpa pengalaman praksis yang membentuk kesadaran kritis
mahasiswa. Lebih jauh, terdapat kontradiksi ketika kampus mengajarkan keadilan
sosial, tetapi sekaligus mereproduksi ketimpangan melalui kebijakan yang
eksklusif. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, empati sering kali menjadi
nilai yang terabaikan di tengah budaya kompetisi, individualisme, dan tuntutan
prestasi, terlebih kita yang khususnya masyarakat Sulawesi Selatan memiliki
warisan nilai yang sangat kaya untuk menjaga semangat kemanusiaan
tersebut.Nilai 4 SIPA (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, dan Sipatokkong)
bukan hanya warisan budaya, melainkan pedoman hidup yang mengajarkan bagaimana
manusia seharusnya berinteraksi dengan sesamanya.
Peristiwa
Apparalang seharusnya menjadi pengingat bahwa kecerdasan intelektual saja tidak
cukup. Masyarakat membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu berpikir kritis,
tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat. Kampus sebagai tempat lahirnya
calon pemimpin masa depan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai
tersebut melalui budaya akademik maupun kehidupan organisasi kemahasiswaan,
Tapi seiring berjalannya waktu hal itu menjadi terkikis layaknya batu karam
yang terus menerus dihantam oleh ombak, mahasiswa seolah olah diciptakan hanya
sekedar sebagai mesin penghasil uang, dimana mereka tidak harus memiliki
perasaan, mereka tidak harus memiliki moral, mereka tidak harus memiliki empati
dan simpati, yang diajarkan dalam kelas bagaimana kita menjadi yang terbaik
bagaimana kita bersaing didunia kerja, seakan akan mereka
diciptakan hanya untuk bekerja, dalam Pendidikan saat yang sering kita dengar
bagaimana menjadi yang pertama, bagaimana menjadi yang monor satu, bagaimana
menjadi yang terbaik diantaras yang terbaik, dan kerap mengajarkan kita
bagaimana menjadi seorang manusia.
Tragedi ini,
atau bahkan tragedi tragedi yang sudah berlalu dari yang besar seperti di-Aceh
atau bahkan yang terkecil seperti merasa terkucilkan jika berbeda dengan
mayoritas, menjadi pengingat bahwa kaum kaum terdidik harusnya tumbuh menjadi
orang yang waras, waras akan berfikir, waras akan berucap, dan waras akan
bertindak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar