Oleh: Haikal
Merdeka
Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diperkenalkan sebagai jawaban atas kebekuan
kurikulum kampus yang dianggap terlalu teoretis dan jauh dari ranah dunia
kerja. Pertanyaannya disini yaitu, apakah program ini benar-benar memerdekakan
cara mahasiswa berpikir, atau sekadar memindahkan proses pembentukan tenaga
kerja dari ruang kuliah dengan label yang baru. Jika tujuannya murni akademik,
mengapa indikator keberhasilannya justru diukur dari jumlah mahasiswa yang
terserap magang berbayar di sebuah korporasi. Kebebasan yang ditawarkan terasa
lebih menyerupai jalur cepat menuju kesiapan kerja ketimbang ruang eksplorasi
keilmuan. Ini yang perlu dipertanyakan sejak awal sebelum membahas detail
teknis programnya.
Kata
"Merdeka" juga perlu dibongkar maknanya, karena pada praktiknya
kebebasan ini tidak datang tanpa syarat. Mahasiswa dilabeli bebas memilih
magang, akan tetapi pilihan itu dibatasi oleh perusahaan mana yang membuka slot
dan kriteria apa yang mereka tetapkan. Tanggung jawab mendidik yang semula ada
di tangan dosen sebagian bergeser ke pembimbing lapangan di perusahaan, yang
orientasinya jelas berbeda dari pendidikan akademik. Mahasiswa lantas dituntut
menyesuaikan diri dengan standar kerja korporasi, bukan standar keilmuan
kampus. Pergeseran tanggung jawab ini jarang dibicarakan secara terbuka dalam
narasi resmi program.
Dalam
memahami pergeseran ini, konsep pemikiran kerja dari Karl Marx cukup relevan
dipakai sebagai basis analisis. Mahasiswa magang sering ditempatkan pada
tugas-tugas teknis berulang yang minim kaitan dengan proses berpikir kritis
yang dibangun di bangku kuliah. Mereka bekerja sesuai target dan SOP
perusahaan, tanpa banyak ruang untuk mempertanyakan mengapa pekerjaan itu harus
dilakukan dengan cara tertentu. Akibatnya, mahasiswa keluar dari kampus bukan
untuk memperluas wawasan teoretis, tapi untuk terbiasa dengan ritme kerja yang
sudah ditentukan pihak lain. Ironinya, proses ini berjalan atas nama
pembelajaran di luar kelas.
Pada
tingkat regulasi, MBKM tidak bisa dilepaskan dari arah besar kebijakan
pendidikan tinggi nasional yang makin mendorong komersialisasi melalui skema
PTN-BH. Kampus dituntut mengejar capaian Indikator Kinerja Utama (IKU), salah
satunya jumlah mahasiswa yang ikut program magang bersertifikat, karena ini
berkaitan langsung dengan alokasi pendanaan dari pemerintah. Tekanan ini
membuat program studi terdorong menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan
industri demi memenuhi target administratif, bukan semata demi relevansi
keilmuan. Pendidikan tinggi pelan-pelan diarahkan untuk berfungsi sebagai
pemasok tenaga siap pakai. Logika pendanaan berbasis capaian inilah yang
sebenarnya menjadi mesin penggerak di balik gencarnya promosi MBKM ke
kampus-kampus.
Dampak
dari arah kebijakan ini tidak dirasakan secara setara oleh semua mahasiswa.
Mahasiswa dari kampus di daerah pelosok jauh lebih sulit mengakses program
magang bersertifikasi dibanding mahasiswa di kota besar yang punya jaringan,
akses internet, dan informasi lebih memadai. Ketimpangan konversi SKS antar
program studi juga membuat sebagian mahasiswa harus menanggung beban
administratif tambahan hanya karena kampusnya belum punya sistem yang siap. Kebebasan
yang digaungkan MBKM pada akhirnya lebih mudah diakses oleh mereka yang sudah
berada dalam posisi diuntungkan secara ekonomi dan geografis. Mahasiswa dari
latar belakang kurang mampu justru menghadapi rintangan tambahan untuk bisa
"merdeka belajar".
Berbagai
persoalan teknis di lapangan turut memperkuat kritik ini. Tidak sedikit laporan
tentang keterlambatan pencairan uang saku magang dari pihak korporasi, yang
membuat mahasiswa harus menunggu tanpa kepastian. Sebagian dosen pembimbing
juga enggan mengonversi penuh 20 SKS magang karena meragukan kesesuaiannya
dengan capaian pembelajaran program studi. Di sisi lain, ada pula keluhan soal
jam kerja magang yang melebihi kewajaran tanpa perlindungan hak normatif
sebagaimana berlaku bagi pekerja pada umumnya. Persoalan-persoalan teknis ini
menunjukkan bahwa implementasi MBKM di lapangan masih jauh dari rancangan ideal
yang dipromosikan secara nasional.
Jika
ditarik ke konteks yang lebih luas, situasi ini sejalan dengan tren global
mengenai keterkaitan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
lintas negara, sebagaimana pernah disinggung dalam berbagai kajian
komersialisasi pendidikan tinggi. Universitas di banyak negara berkembang
menghadapi tekanan serupa untuk menyesuaikan kurikulum dengan permintaan
industri agar tetap relevan secara ekonomi. MBKM dengan demikian bisa dibaca
sebagai bagian dari pola yang lebih besar, bukan sekadar kebijakan lokal yang
berdiri sendiri. Kampus-kampus didorong berkompetisi menyediakan lulusan yang
"siap pakai" demi menjaga daya saing institusi. Pola ini membuat
ruang otonomi keilmuan kampus semakin sempit dari waktu ke waktu.
Menyadari
pola besar ini, mahasiswa perlu mengambil sikap kritis, bukan sekadar menerima
program ini sebagai kebijakan yang sudah final dan tidak bisa dipertanyakan.
Mahasiswa berhak menuntut transparansi soal kriteria konversi SKS, kejelasan
hak selama magang, serta perlakuan yang setara bagi mahasiswa dari berbagai
latar belakang kampus. Forum mahasiswa, badan eksekutif, dan organisasi
intra-kampus bisa menjadi saluran untuk menyuarakan evaluasi kebijakan ini ke
pihak kampus maupun kementerian. Kritik yang disuarakan secara terbuka dan
berbasis data lapangan jauh lebih efektif dibanding sekadar keluhan personal
yang tidak terdokumentasi. Inilah saat yang tepat untuk mengubah posisi
mahasiswa dari objek kebijakan menjadi pihak yang turut menentukan arah kebijakan.
Pada
akhirnya, MBKM tidak harus ditolak secara total, tapi juga tidak boleh diterima
tanpa evaluasi mendalam. Program ini punya potensi baik jika dijalankan dengan
memperhatikan kesetaraan akses dan kejelasan hak mahasiswa magang. Namun jika
dibiarkan berjalan hanya demi memenuhi target administratif kampus, MBKM
berisiko menjadi sekadar alat pemenuhan kebutuhan industri dengan ongkos murah.
Kampus, kementerian, dan mahasiswa perlu duduk bersama mengevaluasi
implementasinya secara berkala, bukan hanya merayakan capaian kuantitatif di
atas kertas. Pendidikan yang baik seharusnya tetap memberi ruang berpikir
kritis, sembari membekali keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar