Rabu, 06 Mei 2026

Menghadirkan Tuhan dalam Laporan Keuangan?


 Oleh: Siti Nurul Fatima

Dalam akuntansi syariah, sering sekali disebut bahwa laporan keuangan bukan cuma bentuk pertanggungjawaban ke manusia, tapi juga ke Tuhan. Kedengarannya ideal, bahkan terasa “tinggi”. Tapi kalau dipikir pelan-pelan, muncul pertanyaan yang agak mengganjal: memangnya sesuatu yang sifatnya spiritual bisa benar-benar dimasukkan ke dalam laporan yang isinya angka semua?

Kalau dilihat di praktiknya, laporan keuangan tetap disusun dengan standar, diaudit, lalu dinilai oleh manusia juga auditor, regulator, investor. Tidak ada mekanisme nyata yang bisa “mengukur” apakah laporan itu sudah mencerminkan pertanggungjawaban kepada Tuhan atau belum. Jadi kadang terasa seperti konsep ini berhenti di level niat saja, belum benar-benar masuk ke teknis. Hal lain yang bikin janggal, nilai-nilai seperti amanah, keadilan, atau bahkan keberkahan sering dicantumkan dalam laporan, biasanya di bagian pengungkapan.

Tapi ketika nilai itu sudah ditulis, rasanya jadi seperti formalitas. Padahal, seharusnya nilai itu terlihat dari proses bisnisnya, bukan cuma dari kalimat penjelasan di akhir laporan. Di sisi lain, ada juga kemungkinan bahwa membawa dan menghadirkan nama “Tuhan” dalam akuntansi justru bikin orang jadi kurang kritis. Ketika sesuatu sudah dilabeli syariah atau religius, biasanya langsung dianggap benar. Jarang yang benar-benar menguji lebih dalam. Ini agak berbahaya juga, karena bisa saja secara teknis sudah sesuai, tapi secara praktik masih ada hal yang sebenarnya perlu dipertanyakan.

Tapi ya, tidak bisa juga langsung dianggap salah. Bisa jadi, konsep pertanggungjawaban kepada Tuhan ini memang dimaksudkan sebagai pengingat internal. Sesuatu yang tidak terlihat, tapi diharapkan memengaruhi cara orang menyusun laporan. Jadi bukan untuk diukur, tapi untuk disadari. Akhirnya, yang jadi menarik justru di situ.

Akuntansi syariah seperti berada di dua dunia: satu yang serba terukur, satu lagi yang tidak bisa diukur sama sekali. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “benar atau tidak”, tapi lebih ke: sejauh mana konsep spiritual itu benar-benar hidup dalam praktik, bukan cuma tertulis di laporan. Tantangan utama dalam mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam teknis akuntansi memang terletak pada sifat laporan keuangan itu sendiri yang bersifat kuantitatif dan historis.

Sementara nilai-nilai spiritual seperti keberkahan sering kali bersifat kualitatif dan transendental, yang melampaui batasan angka-angka di neraca atau laporan laba rugi. Ketimpangan ini menciptakan jurang antara ekspektasi filosofis akuntansi syariah dan realitas pelaporan yang sangat kaku, sehingga sering kali diskusi mengenai akuntansi syariah terjebak pada definisi normatif tanpa adanya peta jalan teknis yang jelas untuk implementasinya.

Lebih jauh lagi, fenomena "pencucian citra" melalui pelabelan syariah menjadi risiko yang nyata ketika nilai-nilai agama dijadikan sekadar atribut pemasaran. Ketika sebuah entitas dengan mudah mengklaim kepatuhan syariah hanya dengan menyematkan istilah-istilah religius, hal ini berisiko menumpulkan daya kritis pemangku kepentingan. Akibatnya, alih-alih menjadi instrumen untuk menciptakan keadilan sosial, laporan keuangan justru berpotensi menjadi alat legitimasi yang membuat praktik bisnis yang sebenarnya masih abu-abu menjadi seolah-olah sakral dan kebal dari evaluasi publik.

Namun, mengabaikan dimensi spiritual sepenuhnya juga bukanlah solusi, karena akuntansi sejatinya adalah produk dari sistem nilai yang dianut oleh pelakunya. Jika konsep pertanggungjawaban kepada Tuhan diposisikan sebagai "kompas moral" daripada sekadar metrik kinerja, maka ia memiliki kekuatan untuk mengarahkan perilaku etis dari dalam diri setiap akuntan. Pergeseran paradigma ini menuntut para praktisi akuntansi untuk tidak hanya mahir dalam standar akuntansi, tetapi juga memiliki integritas yang bersumber dari kesadaran bahwa setiap angka yang mereka tulis memiliki konsekuensi di luar audit manusia.

Pada akhirnya, masa depan akuntansi syariah bergantung pada kemampuan para akademisi dan praktisi untuk menjembatani dunia yang terukur dengan dunia yang disadari. Mungkin kita tidak perlu memaksakan angka-angka untuk "mengukur" Tuhan, melainkan memperkuat transparansi proses bisnis yang mencerminkan nilai-nilai amanah tersebut dalam setiap lini operasional. Dengan demikian, laporan keuangan tidak lagi sekadar menjadi dokumen formalitas, tetapi menjadi cerminan nyata dari praktik bisnis yang jujur, transparan, dan pada akhirnya, layak disebut sebagai wujud pertanggungjawaban yang sesungguhnya.


Penulis merupakan Mahasiswi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menilai ESG melalui Maqashid Syariah

  Oleh: Wanda Amanda ESG ( Environmental, Social, and Governance ) saat ini telah menjadi istilah yang umum digunakan dalam dunia investasi ...