Makassar, 14 Oktober 2025. Di era digital yang serba terkoneksi, mahasiswa kini hidup dalam dua dunia: dunia nyata dan dunia maya. Keduanya saling berkelindan, memengaruhi cara berpikir, bersikap, hingga bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Media sosial, yang semula diciptakan untuk berbagi gagasan dan memperluas jaringan, kini telah berubah menjadi panggung besar tempat setiap individu berlomba menampilkan versi terbaik dari dirinya. Di sinilah muncul fenomena yang disebut overexposure, kecenderungan untuk menampilkan terlalu banyak hal tentang diri sendiri demi mendapat pengakuan publik.
Bagi mahasiswa, fenomena ini menjadi paradoks tersendiri. Di satu sisi, mereka ingin dikenal sebagai pribadi yang berprestasi, aktif, dan inspiratif. Namun di sisi lain, dorongan untuk selalu tampak “sempurna” di media sosial justru menciptakan tekanan sosial yang luar biasa. Identitas pribadi yang seharusnya tumbuh dari refleksi diri, kini lebih banyak dibentuk oleh algoritma dan ekspektasi publik. Mereka tak lagi bertanya “siapa aku?”, melainkan “bagaimana orang lain melihat aku?”.
Dalam beberapa literatur menjelaskan bahwa kehidupan sosial ibarat sebuah panggung, di mana setiap individu memainkan perannya sesuai konteks sosial. Namun di era media sosial, panggung itu tidak lagi terbatas ia hadir 24 jam sehari, dalam bentuk unggahan, story, dan komentar. Mahasiswa kini menjadi aktor yang tak pernah turun dari panggung, terus-menerus mempertahankan citra yang dibangun demi validasi digital.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh seiring dengan meningkatnya budaya pencitraan di dunia akademik dan organisasi. Tak jarang, kegiatan kampus yang seharusnya berorientasi pada pengembangan intelektual malah berubah menjadi ajang dokumentasi demi konten. Alih-alih fokus pada nilai dan proses, mahasiswa sering kali lebih memikirkan angle foto dan caption yang akan diunggah. Hasilnya, kegiatan yang sejatinya sarat makna menjadi kehilangan esensi berubah menjadi tontonan estetis tanpa substansi.
Kita perlu menyoroti hal ini dengan tajam: manusia modern hidup dalam “hiperrealitas”, di mana citra menjadi lebih penting daripada kenyataan. Mahasiswa masa kini terjebak dalam logika yang sama mereka tidak lagi membedakan antara identitas yang sejati dengan persona digital yang mereka ciptakan. Seorang aktivis kampus, misalnya, mungkin lebih dikenal karena unggahan estetikanya daripada gagasannya. Seorang mahasiswa berprestasi lebih sering dilihat dari sorotan kamera, bukan dari perjuangan panjang yang ia tempuh di balik layar.
Krisis identitas ini diperparah oleh sistem sosial yang menilai “eksistensi” berdasarkan visibilitas. Seolah-olah, apa yang tidak diunggah berarti tidak pernah terjadi. Dalam konteks ini, media sosial menjadi cermin yang memantulkan citra diri yang semu semakin sering seseorang tampil, semakin besar pula keinginan untuk terus dilihat. Dan ironisnya, semakin sering seseorang dilihat, semakin ia kehilangan jati diri yang sebenarnya. Manusia sejatinya dibentuk melalui refleksi kritis terhadap realitas, bukan dari pencitraan kosong. Pendidikan seharusnya melatih mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri, berpikir kritis terhadap lingkungannya, dan menumbuhkan kesadaran sosial. Namun, ketika ruang digital justru menjadi ajang kompetisi citra, proses refleksi itu tergantikan oleh kebutuhan untuk diakui dan dikagumi.
Fenomena overexposure ini juga menciptakan bentuk baru dari kelelahan psikologis identity fatigue. Mahasiswa merasa harus terus tampil bahagia, aktif, dan sukses, bahkan ketika kenyataannya tidak demikian. Tekanan untuk mempertahankan citra “sempurna” membuat banyak dari mereka kehilangan ruang untuk menjadi autentik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan mengikis kejujuran emosional, karena segala sesuatu diukur dari seberapa “likeable” ia di dunia maya.
Namun, bukan berarti media sosial adalah musuh. Sebaliknya, ia bisa menjadi alat pembebasan jika digunakan dengan kesadaran kritis. Mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai ruang berbagi pengetahuan, advokasi sosial, dan ekspresi diri yang bermakna. Kuncinya ada pada keseimbangan antara eksposur dan refleksi. Mahasiswa harus berani membangun identitas yang tidak hanya indah di layar, tetapi juga berakar kuat pada nilai, pemikiran, dan tindakan nyata.
Fenomena overexposure di kalangan mahasiswa adalah panggilan untuk kembali pada keotentikan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak pencitraan; ia membutuhkan lebih banyak kejujuran. Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk dunia digital, keberanian terbesar seorang mahasiswa bukanlah tampil paling menonjol melainkan menjadi dirinya sendiri tanpa takut tidak dilihat.
-Abu Khaer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar