Makassar, Oktober 2025 — Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah membawa dampak signifikan terhadap dunia akuntansi. Digitalisasi, otomatisasi, serta penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem akuntansi modern. Fenomena ini menjadi topik hangat dalam berbagai diskusi akademik dan mata kuliah akuntansi di perguruan tinggi, seperti Akuntansi Keuangan Lanjutan, Sistem Informasi Akuntansi, Etika Profesi Akuntansi, dan Audit Modern.
Perubahan ini membawa dua sisi yang kontras: di satu sisi, teknologi mampu meningkatkan efisiensi, ketepatan, dan transparansi dalam pelaporan keuangan. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru berupa risiko keamanan data, potensi manipulasi digital, serta persoalan etika dan tanggung jawab profesional. Akuntan masa kini tidak lagi hanya dituntut memahami jurnal, neraca, dan laporan laba rugi, tetapi juga harus menguasai sistem informasi berbasis cloud, analitik data, serta prinsip keamanan siber.
Menurut dosen mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi Akuntansi di salah satu universitas di Makassar, “Digitalisasi bukan hanya persoalan efisiensi, tetapi juga ujian bagi integritas profesi. Ketika sistem semakin canggih, tanggung jawab moral akuntan justru semakin besar.” Pernyataan ini menggambarkan urgensi bagi mahasiswa akuntansi untuk memperkuat pemahaman etika dalam praktik profesional mereka.
Salah satu tren yang kini menjadi fokus pembelajaran adalah penerapan pelaporan keuangan berbasis XBRL (eXtensible Business Reporting Language). Sistem ini memungkinkan perusahaan publik di Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan secara lebih terbuka dan terstandar. Selain meningkatkan transparansi, XBRL juga memudahkan regulator, investor, dan masyarakat dalam mengakses serta menganalisis informasi keuangan. Dalam konteks akademik, topik ini menjadi bahan kajian penting dalam mata kuliah Pelaporan Keuangan dan Tata Kelola Perusahaan.
Selain XBRL, pemanfaatan AI dalam audit juga menarik perhatian kalangan akademisi dan praktisi. Dengan kemampuan analisis big data, AI mampu mendeteksi anomali dan potensi kecurangan dalam laporan keuangan lebih cepat dibandingkan metode manual. Namun demikian, peran manusia tetap tidak tergantikan, karena keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan profesional, etika, dan pengalaman auditor. Oleh sebab itu, mata kuliah seperti Audit Berbasis Teknologi kini mulai diperkenalkan di berbagai kampus untuk menyiapkan lulusan yang siap bersaing di era digital.
Transformasi digital ini juga menuntut adanya penyesuaian kurikulum pendidikan akuntansi. Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, analisis data, serta kesadaran etika profesional. Mahasiswa diharapkan menjadi akuntan yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar profesi seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.
Secara keseluruhan, perkembangan digitalisasi dan inovasi teknologi telah mengubah paradigma akuntansi dari sekadar pencatatan transaksi menjadi sistem informasi strategis yang mendukung pengambilan keputusan. Dunia akuntansi kini bukan lagi hanya tentang angka, melainkan juga tentang bagaimana data dikelola, dianalisis, dan digunakan secara etis untuk kemajuan organisasi.
Dengan demikian, kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan praktisi menjadi kunci utama dalam membangun masa depan profesi akuntansi yang transparan, beretika, dan berkelanjutan di era digital.
-Muh Fadli Djafar Abadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar