Minggu, 17 Agustus 2025

BAKTI SOSIAL HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI (HMJ-AK) 2025 DI DESA CENRANA BARU, KABUPATEN MAROS


Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJ-AK) UIN Alauddin Makassar melaksanakan Pembukaan Kegiatan Bakti Sosial (BAKSOS) dengan tema "Dari Ruang Kuliah ke Pelosok Negeri: Mewujudkan Nilai Kepedulian, Kolaborasi dan Pengabdian, Melalui Aksi Nyata Mahasiswa Akuntansi yang Berintegritas dan Humanis" yang sementara sedang terlaksana di Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Senin (14/07/2025)

Dalam kegiatan Bakti Sosial, Bapak Kepala Desa Cenrana Baru, Bapak A.Zainal, S.Ag. menyampaikan sambutan hangat pada pembukaan kegiatan Bakti Sosial ini, beliau menyampaikan bahwa Desa ini memang sudah menjadi desa favorit yang biasa dijadikan mahasiswa tempat untuk melangsungkan kegiatan seperti Bakti Sosial atau program KKN.

Ketua Panitia, Bayu Ajitama, mengatakan bahwa selaras dengan tema, kegiatan bakti sosial ini tidak hanya memberikan pengaruh positif bagi masyarakat tetapi juga menjadi wadah dan bentuk nyata pengabdian mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapat di bangku perkuliahan

Sementara itu Ketua HMJ-AK, Ardianto Asri menuturkan bahwa kegiatan bakti sosial ini sendiri bukan hanya bentuk pencapaian tri dharma perguruan tinggi tetapi juga merupakan program kerja dari hmj yang mana didalamnya terdapat 12 program kerja yang akan dilaksanakan selama 8 hari oleh kurang lebih 70 peserta bakti sosial, melihat respon masyarakat yang sangat baik diharapkan apa yang dikerjakan selama kegiatan berlangsung membantu desa cenrana baru.

Bayang Bayang Ketidakmerdekaan: Perempuan terjajah di negara merdeka

 

Hari ini genap 8 dekade sudah kita lewati sejak kemerdekaan bangsa indonesia, setiap tahunnya setiap tanggal 17 pada bulan agustus kita kibarkan bendera merah putih, pekik kemerdekaan bergema gema dijalan, namun gegap gempita dibalik perayaan itu ada sebuah ironi yang lagi lagi belum usai, yang lagi lagi masih terbelenggu yang ternyata separuh dari bangsa ini, perempuan masih hidup dalam jeratan layaknya rantai kolonialisme.

Kolonialis nyatanya sudah pergi, namun wajah penjajahannya berubah rupa, bahwasanya hari ini, perempuan masih melekat dan dilekatkan dengan nilai, budaya, dan kekuasaan yang mengaturnya, bahwasanya gerak gerik perempuan hari ini dikekang oleh tradisi, aturan sosial dan standar gender yang mengakar dari generasi ke generasi.

Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini adalah kemerdekaan politik, adalah kemerdekaan simbolis, tetapi belum menjadi kemerdekaan sosial yang sesungguhnya, dalam ruang ruang publik perempuan masih harus membuktikan kelayakannya berkali-kali, kerap kali tubuh, suara dan pilihan hidup mereka bukan hanya miliknya sendiri, menurut KEMENPPPA sebanyak 16.214 kasus kekerasan gender dari 18.823 kasus per hari ini adalah dialami oleh kaum perempuan dan sisanya pada kaum laki laki, angka angka itu menunjukkan bahwa perempuan saat ini telah kehilangam hak dasar atas keselamatan martabat dan kebebasan hidup.

Perjuangan yang melawan kekerasan terhadap perempuan adalah perjuangan yang melengkapi kemerdekaan yang harus dicapai secara bersama sama, namun bisa kita lihat sekarang saat diadakannya sosialisasi mengenai kekerasan seksual atau sex education dan sebagainya mayoritas pesertanya adalah perempuan padahal sebagian besar pelaku kekerasannya adalah laki laki.

Inilah penjajahan tak kasat mata, sebuah kolonialisme baru yang hadir tidak membawa meriam dan peluru tetapi hadir lewat norma, budaya patriarki, diskriminasi dan ketidakadilan yang mengekerdilkan manusia, situasi ini menunjukkan bahwa di sini perempuan hanya diberi alat untuk melindungi diri tetapi potensi terjadinya ketimpangan gender masih ada karena pelaku tidak dibekali kesadaran tentang batasan dan konsekuensi atas tindakannya padahal ketika menyangkut kekerasan perempuan itu bukanlah masalah sepihak melainkan fenomena sosial yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat untuk diatasi.Menjadi catatan penting bagi kita di usia negara yang 80 tahun hari ini bahwa kemerdakaan sejati tidak sepenuhnya dimana negara terlepas dari penjajahan namun dimana warganya baik perempuan maupun laki laki bebas dari penindasan dan ketidakadilan.

Aksi Kampanye Lembaga Kemahasiswaan FEBI, Tolak Pungli! Berantas Pungutan Liar oleh Dosen FEBI!

  Lembaga Kemahasiswaan (LK) FEBI melakukan sebuah aksi kampanye di Loby Fakultas, Rabu (5/11/2025) Aksi kampanye ini sendiri merupakan sebu...